Kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% adalah sebuah tamparan keras bagi rakyat kecil dan menunjukkan bahwa pemerintah seolah acuh tak acuh. Ini bukan sekadar kebijakan : ini merupakan bentuk penindasan yang terang-terangan! Di tengah kesulitan yang dialami akibat melambungnya harga kebutuhan pokok, kini rakyat harus menanggung beban tambahan yang tak seharusnya mereka pikul. Apakah pemerintah telah melupakan siapa yang memberikan mereka mandat untuk memimpin?
Rakyat Diperas Hingga Kering
Dengan meningkatnya harga bahan pokok, biaya transportasi yang semakin mahal, dan kebutuhan sehari-hari yang makin tidak terjangkau, siapa yang harus menanggung dampaknya? Bukan para pejabat yang menikmati kenyamanan, melainkan rakyat kecil yang setiap hari dihadapkan pada dilema: memilih antara makan atau membayar sekolah anak. Ini adalah keputusan yang kejam dan tak berperasaan, hanya mengejar angka-angka di atas kertas tanpa memikirkan dampaknya bagi kehidupan masyarakat yang sebenarnya.
Korupsi Merajalela, namun Rakyat yang Membayar
Rakyat telah muak dengan kewajiban membayar pajak yang akhirnya mengalir ke kantong para koruptor. Pajak yang seharusnya digunakan untuk pembangunan malah hilang tak jelas ke mana. Proyek sering mangkrak, anggaran terus bocor, sementara para pejabat bersenang-senang. Namun, saat kekurangan anggaran menyerang, sekali lagi rakyat yang jadi korban. Apakah pemerintah tidak merasa malu?
Konglomerat Dielus, Rakyat Ditindas
Perhatikan para pengemplang pajak yang hidup berkelimpahan! Mereka mendapatkan ampunan dari kewajiban pajak dan terus dilindungi. Di sisi lain, rakyat kecil dipaksa menanggung segala kekurangan. Apakah pemerintah ini hanya boneka para konglomerat? Apakah perhatian terhadap rakyat hanya sekadar jargon kosong?
Bukti Gagalnya Pemerintah
Kenaikan PPN ini bukanlah solusi, tetapi pengakuan bahwa pemerintah kehilangan kemampuan untuk mengelola anggaran, memberantas korupsi, dan melindungi rakyat. Alih-alih mencari cara alternatif seperti mengejar pajak dari orang kaya, mereka memilih jalan pintas dengan menambah beban rakyat kecil. Ini adalah bentuk pengkhianatan!
Peringatan untuk Pemerintah
Rakyat tidak akan berdiam diri. Kesabaran memiliki batas. Jika pemerintah terus mempermainkan nasib masyarakat, jangan terkejut jika perlawanan muncul dari berbagai penjuru. Jangan kira rakyat akan terus diam, atau bisa terus dibodohi.
Ingat, pemerintah ada karena rakyat. Jika rakyat sudah mencapai titik jenuh, tidak ada yang bisa menghalau gelombang kemarahan mereka.
#CukupPerasKami
#RakyatSakitElitBergelimang
#TutupMulutElit
#LawanPenindasan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar