Minggu, 08 Februari 2026

Perempuan: Bukan Objek, Tapi Arsitek


Luthfiah Zain
[Sekretaris Bidang Media & Komunikasi Pikom IMM Fisip Unismuh Makassar Periode 2025-2026]


Dunia sering mendikte perempuan untuk menjadi "pelengkap", padahal sejarah membuktikan mereka adalah fondasi. Menjadi perempuan hari ini bukan lagi soal memenuhi ekspektasi, tapi soal meruntuhkan batasi.

​Kelembutan yang Menghantam: Lembut bukan berarti rapuh. Itu adalah kemampuan untuk tetap tenang di tengah badai dan tetap peduli saat dunia mulai abai.

​Pilihan adalah Kuasa: Mau di ruang rapat atau di dapur, mau memimpin korporasi atau mengurus rumah tangga; nilai seorang perempuan ada pada kebebasannya memilih, bukan pada label yang disematkan orang lain.

​Multiverse dalam Satu Jiwa: Perempuan adalah satu-satunya makhluk yang bisa menjadi logika dan rasa dalam satu helaan napas.

Jadi singkatnya, "Perempuan tidak butuh validasi untuk menjadi hebat. Mereka sudah hebat sejak lahir; dunia hanya perlu berhenti mencoba memadamkan apinya."



Lingkungan Hidup: Tanpa Nalar Kritis, Kita Sedang Menuju Krisis

Bagi mahasiswa, nalar kritis adalah kompas utama dalam membaca realitas. Tanggung jawab sosial bukan pilihan, melainkan mandat intelektual. Salah satunya adalah keberpihakan pada lingkungan hidup.

Lingkungan tidak sekadar hutan, udara bersih, atau ruang fisik manusia, tetapi fondasi kualitas hidup hari ini dan masa depan generasi mendatang. Kerusakan lingkungan hari ini adalah krisis sosial di masa depan.

Mahasiswa harus mampu melihat keterkaitan masalah. Penebangan hutan secara masif tidak hanya mengurangi tutupan pohon, tetapi memicu banjir, longsor, krisis pangan, kemiskinan, dan konflik sosial. Data menunjukkan sebagian besar bencana ekologis terjadi akibat ulah manusia, bukan faktor alam semata.

Krisis lingkungan lahir dari kerakusan

 Pertumbuhan ekonomi yang mengabaikan daya dukung alam hanya melahirkan bencana berulang. Ironisnya, keuntungan eksploitasi dinikmati segelintir pihak, sementara dampaknya ditanggung masyarakat luas. Inilah bukti bahwa krisis lingkungan adalah juga krisis keadilan sosial.

Oleh karena itu, menjaga lingkungan hidup harus dipahami sebagai tanggung jawab moral, terutama bagi mahasiswa sebagai agen perubahan. Mahasiswa tidak cukup hanya mengkritik, tetapi juga dituntut melahirkan solusi konkret: riset berkelanjutan, inovasi teknologi ramah lingkungan, serta produk-produk yang berpihak pada keberlanjutan ekologis.

Pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban utama dalam perlindungan ekologis. Kebijakan yang abai terhadap lingkungan adalah kebijakan gagal. Kehidupan sosial adalah laboratorium perjuangan mahasiswa. Tanpa keberanian berpihak pada lingkungan, krisis bukan lagi ancaman melainkan kepastian.

Hal yang lebih mengerikan dari bencana alam adalah keheningan kita menghadapinya karena suara yang paling lantang nanti bukan lagi suara manusia tetapi suara kehancuran alam. Kita akan terus terjebak dalam krisis lingkungan yang sunyi namun mematikan jika pemerintah gagal dalam menentukan kebijakan lingkungan.


 Ahmad Nur

[Ketua Bidang LHAM Pikom IMM Fisip Unismuh Makassar Periode 2025-2026]

Perempuan: Bukan Objek, Tapi Arsitek

Luthfiah Zain [Sekretaris Bidang Media & Komunikasi Pikom IMM Fisip Unismuh Makassar Periode 2025-2026] Dunia sering mendikte perempuan ...