Minggu, 08 Februari 2026

Perempuan: Bukan Objek, Tapi Arsitek


Luthfiah Zain
[Sekretaris Bidang Media & Komunikasi Pikom IMM Fisip Unismuh Makassar Periode 2025-2026]


Dunia sering mendikte perempuan untuk menjadi "pelengkap", padahal sejarah membuktikan mereka adalah fondasi. Menjadi perempuan hari ini bukan lagi soal memenuhi ekspektasi, tapi soal meruntuhkan batasi.

​Kelembutan yang Menghantam: Lembut bukan berarti rapuh. Itu adalah kemampuan untuk tetap tenang di tengah badai dan tetap peduli saat dunia mulai abai.

​Pilihan adalah Kuasa: Mau di ruang rapat atau di dapur, mau memimpin korporasi atau mengurus rumah tangga; nilai seorang perempuan ada pada kebebasannya memilih, bukan pada label yang disematkan orang lain.

​Multiverse dalam Satu Jiwa: Perempuan adalah satu-satunya makhluk yang bisa menjadi logika dan rasa dalam satu helaan napas.

Jadi singkatnya, "Perempuan tidak butuh validasi untuk menjadi hebat. Mereka sudah hebat sejak lahir; dunia hanya perlu berhenti mencoba memadamkan apinya."



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Symbolic Violence terhadap Perempuan dan Krisis Safe Space dalam Ruang Sosial

Belakangan ini, ruang-ruang yang selama ini diyakini sebagai tempat aman justru kembali dipertanyakan. Lingkungan pendidikan, ruang sosial, ...