Indonesia sedang berada di titik krusial dalam perjalanan pembangunannya. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan ekspansi industri terus digencarkan demi mengejar kemajuan. Namun, di sisi lain, krisis ekologis semakin nyata di depan mata. Deforestasi, banjir yang berulang, krisis sampah plastik, pencemaran sungai, hingga ancaman perubahan iklim menjadi tanda bahwa ada yang keliru dalam arah pembangunan kita. Pertanyaannya, apakah kemajuan harus selalu dibayar dengan kerusakan?
Sudah saatnya kita menyadari bahwa pembangunan tidak boleh hanya bertumpu pada logika ekonomi. Indonesia membutuhkan fondasi moral dan spiritual yang kuat untuk menata ulang orientasi pembangunannya. Dalam konteks inilah, spirit integritas ekoteologis menjadi relevan dan mendesak.
Ekoteologi mengajarkan bahwa alam bukan sekadar sumber daya yang boleh dieksploitasi sesuka hati. Alam adalah bagian dari ciptaan Tuhan yang memiliki nilai intrinsik. Dalam tradisi keagamaan, manusia diposisikan sebagai khalifah di bumi—pemelihara, bukan perusak. Namun dalam praktiknya, manusia sering kali bertindak sebagai penguasa yang rakus. Hutan ditebang tanpa kendali, laut dieksploitasi berlebihan, dan tanah dikuras tanpa memikirkan daya dukungnya.
Integritas ekoteologis menuntut konsistensi antara iman dan tindakan. Tidak cukup berbicara tentang kepedulian lingkungan di mimbar-mimbar keagamaan jika pada saat yang sama kita abai terhadap perilaku konsumtif dan kebijakan yang merusak alam. Integritas berarti keberanian untuk menempatkan nilai-nilai spiritual sebagai dasar dalam pengambilan keputusan, termasuk dalam kebijakan publik.
Pembangunan berkelanjutan sejatinya bukan konsep baru. Dunia internasional telah lama mendorong keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Namun, tanpa dimensi etis dan spiritual, konsep tersebut sering kali berhenti pada jargon. Di Indonesia, kita membutuhkan pendekatan yang lebih membumi—yang tidak hanya berbicara tentang angka pertumbuhan, tetapi juga tentang keberlanjutan kehidupan.
Spirit integritas ekoteologis dapat menjadi jembatan antara nilai agama, kearifan lokal, dan kebijakan modern. Bangsa ini memiliki tradisi panjang dalam menjaga harmoni dengan alam. Masyarakat adat menjaga hutan sebagai ruang sakral. Budaya gotong royong mengajarkan tanggung jawab kolektif. Sistem pertanian tradisional dibangun atas prinsip keseimbangan, bukan eksploitasi. Nilai-nilai ini seharusnya menjadi inspirasi dalam merumuskan arah pembangunan nasional.
Tantangan terbesar justru terletak pada integritas para pemimpin dan pengambil kebijakan. Ketika kepentingan ekonomi jangka pendek lebih diutamakan daripada keberlanjutan jangka panjang, maka kerusakan ekologis menjadi harga yang harus dibayar generasi mendatang. Integritas ekoteologis menuntut keberanian moral untuk mengatakan tidak pada praktik-praktik yang merusak, sekalipun menjanjikan keuntungan finansial.
Di tingkat masyarakat, perubahan juga harus dimulai dari diri sendiri. Mengurangi penggunaan plastik, mendukung produk ramah lingkungan, menjaga kebersihan lingkungan sekitar, serta terlibat dalam gerakan pelestarian alam adalah bentuk konkret dari integritas tersebut. Iman tidak boleh berhenti pada ritual; ia harus menjelma menjadi tindakan nyata yang menjaga keberlangsungan kehidupan.
Lebih jauh lagi, krisis ekologis sejatinya adalah krisis kesadaran. Ketika manusia merasa terpisah dari alam, maka eksploitasi dianggap wajar. Padahal, manusia dan alam adalah satu kesatuan ekosistem. Kerusakan lingkungan pada akhirnya akan kembali menghantam manusia sendiri dalam bentuk bencana, krisis pangan, dan ketimpangan sosial.
Membangun Indonesia berkelanjutan berarti menata ulang cara pandang kita terhadap kemajuan. Kemajuan bukan hanya tentang gedung tinggi dan jalan tol panjang, tetapi tentang udara yang bersih, air yang layak minum, hutan yang lestari, serta keadilan bagi generasi yang akan datang. Pembangunan yang kehilangan dimensi moral hanya akan menghasilkan kemakmuran semu.
Spirit integritas ekoteologis mengajak kita untuk kembali pada kesadaran dasar: bumi bukan warisan nenek moyang semata, melainkan titipan bagi anak cucu. Jika pembangunan hari ini mengorbankan masa depan, maka itu bukanlah kemajuan, melainkan kemunduran yang disamarkan.
Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor peradaban hijau di kawasan Asia Tenggara. Dengan kekayaan alam, keberagaman budaya, dan kekuatan spiritual masyarakatnya, bangsa ini sebenarnya memiliki modal sosial yang luar biasa. Yang dibutuhkan adalah komitmen kolektif untuk menjadikan integritas sebagai pijakan utama.
Akhirnya, membangun Indonesia berkelanjutan bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Ia adalah panggilan moral bagi setiap warga negara. Ketika nilai spiritual berpadu dengan kesadaran ekologis, maka pembangunan tidak lagi sekadar proyek ekonomi, melainkan gerakan peradaban. Dari situlah harapan lahir—harapan akan Indonesia yang maju tanpa kehilangan jiwanya, berkembang tanpa merusak alamnya, dan sejahtera tanpa mengorbankan masa depannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar