Rezky Amelia
Kabid IMMawati PK IMM FISIP 2025-2026
Alumni SKI Jilid VIII
Sekolah Khusus Immawati (SKI) bukan sekadar ruang pelatihan, melainkan wadah pembentukan karakter, nilai, dan kesadaran diri bagi perempuan yang memilih jalan dakwah dan perjuangan melalui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Di dalam SKI, perempuan tidak hanya dibekali dengan kecerdasan intelektual dan keanggunan sikap, tetapi juga dibentuk menjadi pribadi yang berprinsip, kritis, dan berdaya. Perbedaan antara Immawati dan perempuan pada umumnya tidak terletak pada kodrat biologisnya, melainkan pada kesadaran ideologis dan nilai-nilai gerakan yang dihidupi dalam setiap langkah perjuangan.
Setiap perempuan pada dasarnya adalah ciptaan Allah yang dimuliakan. Namun, menjadi Immawati berarti menyadari bahwa kemuliaan itu mengandung tanggung jawab sosial, intelektual, dan spiritual yang harus dijalankan. Jika perempuan pada umumnya berjuang untuk dirinya dan lingkungannya, maka Immawati melangkah lebih jauh ia berjuang untuk umat dan peradaban. Ia tidak hanya menampilkan kelembutan, tetapi juga memiliki keteguhan berpikir dan keberanian untuk bertindak. Ia membaca realitas sosial dengan tajam, mengkritisinya, dan berupaya menghadirkan solusi berdasarkan nilai-nilai Islam dan ideologi IMM yang berlandaskan pada religiusitas, humanitas, dan intelektualitas.
SKI juga menanamkan spirit profetik, yakni semangat kenabian yang meneladani perjuangan Rasulullah saw. sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam. Menjadi Immawati bukan tentang mencari pengakuan atau citra, tetapi tentang menjalankan misi kehidupan yang berlandaskan nilai amar ma’ruf nahi munkar. Seorang Immawati tidak berhenti pada kesalehan individu, melainkan bergerak menuju kesalehan sosial. Ia tidak hanya shalihah di sajadah, tetapi juga di ruang publik di kampus, di masyarakat, bahkan di dunia digital. Ia menjadikan keislaman bukan sekadar identitas, melainkan sumber nilai untuk menggerakkan perubahan yang nyata dan berkeadilan.
Menjadi Immawati berarti memiliki kesadaran gerakan. SKI mendidik para Immawati untuk tidak berpikir sebagai individu yang terpisah dari realitas, melainkan sebagai bagian dari perjuangan kolektif. Kesadaran ini menjadikan Immawati berani bersuara terhadap ketimpangan sosial dan budaya patriarki, menjadi pelopor pemberdayaan bagi sesama perempuan, serta membangun solidaritas antar Immawati dengan dasar nilai ideologis yang kuat. Jika perempuan pada umumnya menunggu perubahan, maka Immawati adalah mereka yang menciptakan perubahan itu dengan pemikiran, tindakan, dan keteladanan.
SKI bukan hanya membentuk identitas, tetapi menumbuhkan kesadaran. Identitas bisa dimiliki siapa saja, namun kesadaran hanya lahir dari proses panjang pembelajaran, perjuangan, dan pengabdian. Seorang Immawati tidak dibentuk oleh simbol, tetapi oleh nilai dan proses. Melalui SKI, ia ditempa untuk menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, mandiri secara sosial, dan teguh secara spiritual. Ia memahami arah zaman, namun tetap menjadikan iman sebagai kompas hidupnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar