Senin, 27 Oktober 2025

Ketuk Kesadaran Tamparan Generasi yang Lupa Literasi dan Jiwa Kebangsaan

 

Fatimah Azzahra

Direktur SKI Jilid IX

Sekretris bidang SPM IMM FISIP

Hari Sumpah Pemuda seharusnya menjadi cermin tajam bagi generasi masa kini, bukan sekadar seremoni, bukan juga rutinitas yang diulang tanpa makna. Delapan puluh tujuh tahun lalu, para pemuda Indonesia mengikrarkan Sumpah Pemuda dengan semangat membakar: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa. Mereka tidak sekadar bersumpah, tetapi berjuang dengan seluruh jiwa untuk memerdekakan bangsa dari kebodohan, perpecahan, dan ketertinggalan. Namun kini, hampir seabad kemudian, semangat itu seakan pudar di tengah layar gawai dan gemerlap tren digital. Kita menyaksikan ironi: bangsa dengan jumlah pemuda terbanyak di Asia Tenggara justru menghadapi krisis literasi dan kemerosotan kesadaran kebangsaan.

Realitas di lapangan menampar nurani. Data nasional memperlihatkan bahwa meskipun tingkat melek huruf Indonesia sudah mencapai 96,67% pada tahun 2025, masih ada sekitar 9,41 juta jiwa yang belum mampu membaca dan menulis secara memadai. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) yang dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional RI pada tahun 2022 juga baru mencapai angka 64,48 dari 100, jauh dari target ideal untuk bangsa yang ingin melompat menuju visi Indonesia Emas 2045. Angka-angka ini tidak sekadar statistik; ia adalah potret mental bangsa yang mulai kehilangan daya kritis dan semangat belajar dua hal yang dulu menjadi bahan bakar utama perjuangan pemuda 1928.

Di ruang akademik, terutama di Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar), fenomena ini sangat jelas. Kampus yang dikenal aktif dalam kegiatan riset dan pengabdian masyarakat kini mencatat ratusan penelitian dalam beberapa tahun terakhir, dengan ribuan mahasiswa baru setiap tahunnya. Namun di balik capaian itu, muncul pertanyaan mendasar sudahkah semangat intelektual tersebut benar-benar mengakar dalam diri mahasiswa, ataukah hanya sekadar tuntutan administratif akademik? Banyak mahasiswa yang masih melihat kegiatan ilmiah sebatas tugas kuliah, bukan tanggung jawab moral untuk membangun masyarakat. Seminar dan lomba ilmiah sering kali ramai di awal, namun tindal lanjutan setelahnya itu tidak berjalan sesuai perencanaan awal. Ini bukan sekadar masalah minat, tetapi gejala menurunnya kepekaan sosial dan idealisme mahasiswa dua hal yang seharusnya menjadi ciri utama generasi berdampak.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa sebagian pemuda hari ini lebih sibuk mengikuti tren global ketimbang memahami sejarah bangsanya. Sumpah Pemuda menjadi tema pidato tahunan, bukan inspirasi untuk bertindak. Mereka hafal slogan “pemuda harapan bangsa,” tetapi enggan berpikir kritis atau berkontribusi nyata di lingkungan sekitarnya. Padahal, bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini dengan lebih dari 64 juta jiwa pemuda bisa menjadi kekuatan dahsyat bila diarahkan melalui jalur pendidikan yang mencerahkan dan literasi yang membangun. Tanpa itu, bonus demografi justru akan berubah menjadi beban sosial yang menghambat kemajuan.

Peringatan Sumpah Pemuda semestinya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali jiwa literasi dan semangat juang di kalangan mahasiswa. Literasi tidak hanya berarti membaca buku, tetapi juga kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan bertindak berdasarkan pengetahuan yang diperoleh. Mahasiswa Unismuh Makassar dan seluruh perguruan tinggi di Indonesia perlu menjadikan kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, melainkan arena pengabdian dan perubahan sosial. Kegiatan riset harus mampu menyentuh kebutuhan masyarakat, bukan hanya mengejar publikasi akademik. Seminar, diskusi, dan organisasi mahasiswa perlu diarahkan untuk menumbuhkan kepekaan, nasionalisme, dan kesadaran kritis terhadap realitas bangsa. Pendidikan tinggi seharusnya menjadi dapur peradaban, tempat ide-ide segar dipanggang menjadi aksi nyata. Bila kampus hanya menjadi tempat mengejar gelar tanpa nilai, maka makna Sumpah Pemuda telah tereduksi menjadi upacara tanpa jiwa. Saat ini, bangsa membutuhkan mahasiswa yang bukan hanya pandai berbicara tentang perubahan, tetapi berani menciptakan perubahan itu sendiri. Mahasiswa yang tidak hanya menulis esai kebangsaan, tetapi juga menjadikan ilmunya sebagai alat pengabdian di masyarakat.

Sumpah Pemuda adalah api yang seharusnya terus menyala, bukan bara yang padam di bawah tumpukan rutinitas. Ia menuntut kita untuk menegaskan kembali jati diri sebagai pemuda yang berani berpikir, berani bermimpi, dan berani bertindak. Generasi muda harus memahami bahwa perjuangan hari ini tidak lagi di medan perang, melainkan di ruang-ruang literasi, laboratorium, ruang kelas, dan forum-forum publik. Tantangan terbesar bukan lagi penjajahan fisik, tetapi penjajahan pikiran dan ketergantungan terhadap budaya konsumtif yang membuat kita lupa berpikir kritis. Kini, saat bangsa kembali menatap cita-cita Indonesia Emas 2045, tamparan ini perlu kita terima dengan lapang dada. Kita perlu mengakui bahwa semangat juang banyak yang pudar, tetapi pengakuan itu bukan untuk menyesali, melainkan untuk membangun ulang kesadaran. Mahasiswa dan akademisi di seluruh Indonesia, termasuk di Unismuh Makassar, memiliki peran penting untuk menjadi katalis perubahan. Mereka harus berani memimpin gerakan literasi, menggagas penelitian yang relevan bagi masyarakat, serta membangun jejaring sosial yang mencerdaskan.

Pada akhirnya, refleksi Sumpah Pemuda bukanlah nostalgia, melainkan tanggung jawab moral untuk menghidupkan kembali nilai persatuan, semangat belajar, dan keberanian untuk berubah. Setiap mahasiswa yang menginspirasi berpikir kritis, setiap pemuda yang menulis dan berdiskusi demi kemajuan bangsanya mereka adalah pewaris sejati semangat 1928. Indonesia tidak akan menjadi bangsa besar hanya karena jumlah penduduknya, tetapi karena kualitas generasi mudanya yang berani berpikir dan bertindak. Dan jika hari ini Sumpah Pemuda kembali kita maknai dengan sepenuh kesadaran, maka tamparan itu akan berubah menjadi nyala yang dapat menuntun kita menuju bangsa yang tercerahkan dan bermartabat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pemimpin Cerdas atau Pemimpin Loyal? Refleksi Kepemimpinan dalam IMM

Dalam ruang-ruang kaderisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), kita sering diajarkan untuk berpikir kritis, berani bersuara, dan tidak ta...