Srikandi bukan sekadar nama tokoh dalam epos besar. Ia adalah simbol keberanian, keteguhan, dan kecerdasan seorang perempuan yang tidak hanya berdiri di belakang, tetapi juga berdiri di garis depan perjuangan. Dalam konteks gerakan hari ini, Srikandi adalah cermin yang seharusnya memantulkan semangat perjuangan dan kesadaran kritis, bukan sekadar simbol yang dimaknai secara sempit. Maka, dalam perjalanan satu dekade Sekolah IMMawati (SKI) PIKOM IMM FISIP, sudah saatnya seluruh IMMawati bercermin pada makna sejati itu.
SKI tidak pernah dimaksudkan hanya untuk bersemayam dalam lingkup PIKOM IMM FISIP, atau sekadar berkiprah di dalam struktur keorganisasian. SKI hadir sebagai ruang yang lebih luas dari sekadar forum internal: ruang yang memberi manfaat, menciptakan dampak, dan melahirkan gagasan-gagasan segar yang mampu menembus batas-batas struktural. SKI seharusnya menjadi pelita yang menyalakan kesadaran kolektif, bukan hanya api kecil yang redup di dalam ruangan sendiri.
Gerakan IMMawati hari ini sedang dihadapkan pada kenyataan yang tidak bisa lagi diabaikan. Semangat perjuangan perlahan meredup, tulisan-tulisan kritis jarang dijumpai, suara perlawanan seolah dibungkam oleh kenyamanan, dan ruang-ruang kajian kehilangan ruhnya. Buku yang dahulu menjadi senjata intelektual tak lagi dijadikan wadah untuk mempertajam pikiran dan menguatkan narasi perlawanan. Sementara itu, realitas di luar terus bergerak cepat dalam arus globalisasi dan banjir informasi.
Pertanyaannya: apa urgensi mencetak kader jika hanya sekadar memenuhi kewajiban keberlanjutan program kerja? Untuk apa setiap tahun mengulang rutinitas seremonial jika hasilnya tak pernah melahirkan perubahan mendasar? Apakah IMMawati akan terus terjebak dalam lingkaran formalitas yang steril dari kebermaknaan? Ataukah benar-benar ingin mencetak peradaban melalui tangan-tangan yang berani, cerdas, dan berintegritas?
IMMawati tidak dilahirkan hanya untuk menjadi simbol keshalehaan, tetapi untuk menjadi “Srikandi” perempuan yang membawa makna perjuangan, daya kritis, dan kekuatan perubahan. Srikandi bukan sekadar berhijab dan menutup aurat, melainkan juga membuka cakrawala berpikir dan mempertegas keberpihakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Personal branding IMMawati sejatinya tidak ditentukan oleh pakaiannya semata, tetapi oleh ketajaman pikiran dan narasi, keberdampakan gerakan, serta keluasan relasi dalam membangun mimbar-mimbar peradaban. Identitas sejati IMMawati terletak pada daya dobrak pemikirannya, bukan pada simbol semata. Maka menjadi IMMawati bukan hanya tentang tampil syar’i, melainkan tentang bagaimana menghadirkan keberanian berpikir, keberanian bersuara, dan keberanian bergerak.
Dalam konteks ini, ada beberapa langkah nyata yang perlu dipertimbangkan:
- Menghidupkan kembali tradisi
intelektual. Kajian dan bacaan bukan sekadar agenda, tetapi ruang
pembentukan nalar kritis. IMMawati harus kembali menjadikan literasi
sebagai senjata utama.
- Membangun keberanian bersuara. Perlawanan tidak harus selalu
dalam bentuk konfrontasi, tetapi bisa melalui narasi yang tajam, tulisan
yang menyala, dan gagasan yang membangun kesadaran kolektif.
- Menguatkan solidaritas sesama
IMMawati. Gerakan tidak akan kuat jika hanya bertumpu pada
segelintir orang. Perlu kesadaran bersama bahwa perubahan tidak lahir dari
kenyamanan, tetapi dari keberanian melawan kelumpuhan.
- Beradaptasi dengan zaman. Di tengah derasnya arus informasi,
IMMawati harus mampu menggunakan teknologi dan ruang digital sebagai
medium perjuangan, bukan sekadar ruang eksistensi kosong.
Peradaban tidak akan lahir dari seremonial tahunan, melainkan dari gerakan yang hidup. IMMawati harus hadir sebagai pelopor perubahan, bukan sekadar pelengkap sejarah organisasi. Kini saatnya berhenti bersembunyi di balik simbolik; berhenti menjadikan gerakan sebagai rutinitas tanpa ruh!
Srikandi sejati bukan hanya kuat dalam langkah, tetapi tajam dalam pikir, tegas dalam sikap, dan luas dalam kebermanfaatan. IMMawati harus kembali menjadi itu, garda depan perubahan, bukan sekadar barisan penonton di tengah panggung sejarah.
Salam hormat dariku yang merindukan bunga-bunga revolusi bermekaran di taman Sospol. Semoga kita semua terus tumbuh dan mekar dengan dampak yang masih terus kita upayakan tidak sekadar berbentuk narasi, tetapi melalui tindakan nyata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar