Selasa, 26 Mei 2026

Di Hari Raya Kurban, Apa yang Sebenarnya Kita Sembelih?

Takbir kembali menggema.

Masjid-masjid dipenuhi manusia. Pisau-pisau diasah. Hewan-hewan kurban mulai didatangkan. Tetapi di tengah riuh Hari Raya Iduladha, ada satu pertanyaan yang seharusnya diam-diam kita pertanyakan kepada diri kita sendiri:

Apa yang sebenarnya kita sembelih?

Apakah kurban hanya tentang kambing dan sapi yang rebah di tanah, lalu dagingnya dibagikan kepada masyarakat? Ataukah ada sesuatu yang jauh lebih besar yang seharusnya ikut dikorbankan dalam diri manusia?

Hari ini, manusia hidup di zaman yang serba cepat tetapi semakin kehilangan makna. Kita hidup di era ketika pencitraan lebih dipentingkan daripada ketulusan, ketika media sosial dipenuhi perlombaan untuk terlihat bahagia, kaya, dan sempurna. Ironisnya, di tengah dunia yang semakin modern, rasa peduli justru perlahan menghilang. Banyak orang mudah mengunggah kepedulian, tetapi sulit benar-benar hadir untuk sesama.

Iduladha datang bukan hanya sebagai perayaan tahunan, tetapi sebagai tamparan spiritual bagi manusia yang terlalu sibuk mengejar dunia. Sebab sejatinya, kurban bukan pertama-tama tentang darah dan daging.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini seperti sedang mengingatkan manusia modern bahwa Allah tidak membutuhkan hewan kurban kita. Allah tidak membutuhkan banyaknya sapi yang disembelih ataupun mahalnya harga hewan yang dibeli. Yang Allah lihat adalah hati manusia: seberapa ikhlas ia memberi, seberapa besar ia rela melepaskan sesuatu yang dicintainya demi nilai kebaikan dan ketaatan.

Karena itu, Iduladha sejatinya adalah momentum penyembelihan ego. Menyembelih kesombongan. Menyembelih sifat rakus. Menyembelih cinta dunia yang berlebihan. Menyembelih hati yang terlalu sibuk dengan dirinya sendiri sampai lupa melihat penderitaan orang lain.

Kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. menjadi simbol pengorbanan terbesar dalam sejarah kemanusiaan. Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya sendiri, perintah itu bukan sekadar ujian fisik, melainkan ujian keimanan dan keikhlasan.

Allah mengabadikan kisah tersebut dalam Al-Qur’an:

“Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’” (QS. As-Saffat: 102)

Betapa berat perintah itu. Ismail bukan hanya seorang anak, tetapi juga harapan, cinta, dan kebahagiaan bagi Nabi Ibrahim yang telah lama menanti keturunan. Namun di titik itulah Allah ingin mengajarkan bahwa cinta kepada Tuhan harus berada di atas segala-galanya.

Dan yang menarik, Nabi Ismail tidak memberontak. Ia justru menerima perintah itu dengan penuh kesabaran dan ketaatan. Dari kisah ini, kita belajar bahwa pengorbanan sejati lahir dari keikhlasan, bukan keterpaksaan.

Hari ini, semangat pengorbanan itu seharusnya hidup dalam kehidupan mahasiswa dan terkhusus bagi kader IMM itu sendiri. Sebab IMM bukan hanya tempat berkumpul, tetapi ruang untuk menempa diri menjadi manusia yang memiliki nilai pengabdian.

Dalam Trilogi IMM, terdapat nilai Spiritualitas, intelektualitas, dan humanitas. Iduladha mengajarkan ketiganya sekaligus. Spiritualitas hadir melalui ketaatan kepada Allah. Intelektualitas hadir ketika manusia mampu memaknai kurban bukan hanya secara ritual, tetapi juga secara sosial dan moral. Sedangkan humanitas hadir ketika semangat berbagi dan kepedulian kepada sesama menjadi inti dari perayaan Iduladha.

Begitu juga selogan yang selalu di gaungkan sebagai spirit di IMM:

Anggun dalam moral, unggul dalam intelektual, dan radikal dalam gagasan.

Hari Raya Kurban seharusnya melahirkan manusia-manusia yang anggun dalam moralnya, yang rela berbagi tanpa pamrih dan membantu tanpa perlu dipuji. Iduladha juga harus melahirkan kader yang unggul dalam intelektual, yang mampu membaca bahwa kemiskinan, ketimpangan sosial, dan hilangnya empati adalah persoalan kemanusiaan yang nyata. Dan lebih dari itu, kader IMM harus radikal dalam gagasan, berani menghadirkan gerakan sosial yang benar-benar menyentuh masyarakat, bukan sekadar sibuk dalam seremonial.

Sebab dunia hari ini tidak hanya membutuhkan orang pintar. Dunia membutuhkan manusia yang memiliki hati.

Mungkin itulah makna terbesar dari Iduladha. Bahwa yang paling sulit untuk dikorbankan bukanlah hewan, melainkan ego dalam diri manusia sendiri.

Dan di Hari Raya Kurban ini, mungkin pertanyaan itu perlu kita ulang sekali lagi:

Apa yang sebenarnya kita sembelih?


Abdullah Umar Al faruq

Departemen Bidang Organisasi PK IMM FISIP 2025-2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Di Hari Raya Kurban, Apa yang Sebenarnya Kita Sembelih?

Takbir kembali menggema. Masjid-masjid dipenuhi manusia. Pisau-pisau diasah. Hewan-hewan kurban mulai didatangkan. Tetapi di tengah riuh Har...