Minggu, 25 Oktober 2020

Catatan Kader Kebangsaan: Merefleksi 1 Tahun Kepemimpinan Jokowi-Ma’ruf

Oleh: Muh. Ari Fahmi (Direktur Kajian Kebangsaan SKB 7 PIKOM IMM FISIP)



1 Tahun sudah kita merasakan kepemimpinan Presiden dan Wakilnya (periode 2019-2024) yang sangat penuh dengan dinamika. Dalam bahtera kepemimpinan yang dinahkodai oleh Jokowi-Ma’ruf melahirkan konstelasi politik yang sangat dinamis.

Tentunya di dalam suatu birokrasi yang demokratis akan menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat terhadap kinerja para birokrat.

Di masa pemerintahan Presiden Jokowi memang patut kita apresiasi kinerjanya yang dimana salah satu programnya yang sangat kita rasakan, yaitu dengan pembangunan infrastruktur yang merata, dikarenakan infrastruktur inilah yang akan menunjang pertumbuhan perekonomian.

Namun dengan begitu masih banyak kinerja pemerintah yang belum memuaskan sehingga banyak mendapat sorotan dan kritikan dari berbagai elemen masyarakat. Salah satu problem yang kita hadapi dari awal kemerdekaan hingga reformasi saat ini, yaitu terkait dengan pengelolaan SDM yang belum efektif.

Pengelolan potensial SDM menjadi salah satu faktor utama untuk kemajuan sebuah negara, agar nantinya SDA dapat terkelolah dengan tujuan mensejahterakan masyarakat bisa tercapai, yang dimana sudah jelas termaktum dalam konstitusi dasar negara kita (UUD tahun 1945).

Dalam Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 menyatakan bahwa: Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Tentunya inilah menjadi dasar yuridis hak warga negara Indonesia untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak. Subtansi dan esensi UU tersebut harus mampu dipertanggungjawabkan dan diimplementasikan oleh intansi terkait.

Belakangan ini di masa pandemi Covid-19 negara kita mengalami begitu banyak problematika, mulai dari gelombang PHK yang besar-besaran hingga ekonomi kita mengalami resesi. Tentunya ini menjadi PR besar bagi pemerintah agar menimalisir dampak dari pandemi ini.

Di masa krisis saat ini sebagian masyarakat menganggap bahwa pemerintah kurang kompeten dalam penaganan pemutusan rantai penyebaran wabah penyakit dan dampak dari pandemi Covid-19. Ratusan Terliunan anggaran yang dialokasikan belum sepenuhnya terkelolah dan terealisasi dengan efektif.

Merujuk ke persoalan RUU Omnibus Law yang saat ini di berbagai wilayah mendapat penolakan untuk disahkan, dikarenakan seharusnya pemerintah terlebih dahulu fokus terhadap pemutusan rantai penyebaran virus ini, namun justru sangat bernafsu untuk mengesahkan Omnibus Law.

Berdasarkan rencana awal, pengesahan Omnibus Law menjadi UU dilakukan pada Kamis (8/10/2020). Akan tetapi DPR dan pemerintah mempercepat. Baik proses pembahasan hingga legalitasnya. Dengan alasan pandemi, penutupan masa sidang dipercepat. Sehingga rapat paripurna pengesahan di tingkat legislatif dipercepat pada tanggal (5/10/2020).

Tentunya dengan agenda tersebut yang terkesan terburu-buru untuk dilaksanakan, menuai banyak kecurigaan sehingga menjadi paradoks dan polemik saat ini.

Subtansi produk hukum tersebut membahas 11 klaster, yaitu: 1) Penyederhanaan Perizinan, 2) Persyaratan Investasi, 3) Ketenagakerjaan, 4) Kemudahan, Pemberdayaan, dan Perlindungan UMK-M, 5) Kemudahan Berusaha, 6) Dukungan Riset dan Inovasi, 7) Administrasi Pemerintahan, 8) Pengenaan Sanksi, 9) Pengadaan Lahan, 10) Investasi dan Proyek Pemerintah, dan 11) Kawasan Ekonomi.

Dengan banyaknya UU yang akan di bahas dalam Omnibus Law tentunya memerlukan waktu yang tidaklah singkat, diperlukannya kajian yang radikal dan fundamental, serta turut melibatkan seluruh elemen masyarakat yang akan terkena dampak dari kebijakan tersebut, untuk berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan ini. Agar nantinya kebijakan yang dikeluarkan bisa terimplementasi dengan efektif. 

Dalam hal ini pentingnya pemerintah melakukan sosialisasi, transparansi, dan akuntabilitas terhadap seluruh masyarakat dalam pembahasan ini. Agar tidak terjadinya miskomunikasi yang berpeluang untuk menimbulkan hoax yang akan dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu.

RUU yang telah di ketok palu pada rapat Paripurna, sampai saat ini  sangat sulit draft finalnya di akses oleh publik, jadi  wajar-wajar saja jika terjadi miskomunikasi, sehingga pemerintah tidak bisa sepenuhnya menyalahkan masyarakat yang mendapat informasi menyimpang dari subtansi RUU tersebut, dikarenakan bisa saja pemerintah yang kurang memberikan edukasi terkait dengan hal ini.

Begitu banyaknya kejanggalan dalam proses pembuatan hingga pengesahan dalam regulasi tersebut di tingkat legislatif, sehingga gelombang massa Mahasiswa turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi sebagai representasi penyambung lidah rakyat.

Eksistensi solidaritas pergerakan Mashasiswa saat ini murni untuk menyuarakan aspirasi masyarakat agar kemesraan lembaga legislatif dan eksekutif terhadap oligarki tidak berlarut-larut. Pergerakan yang berangkat dari niat untuk menuntut keadilan tanpa di tunggangi dari pihak manapun.

Yang juga menjadi paradoks kita saat ini, yaitu sistem pemerintahan kita yang menganut sistem demokrasi namun Trias Politica yang tidak jalan sebagaimana mestinya, belum adanya pembagian kekuasaan yang real.

Lembaga-lembaga yang seharusnya independen yang mesti memprioritaskan kepentingan masyarakat banyak, namun masih saja bisa di intervensi.

Sistem Demokrasi yang identik dengan kebebasan berpendapat namun nyatanya kritikan di bungkam secara perlahan menggunakan pasal-pasal karet yang tumpang-tindih dengan dasar yuridis tertinggi dalam Pasal 28 UUD 1945 menyatakan bahwa: “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya”.

Widji Thukul seorang penyair dan aktivis hak asasi manusia mengatakan: “Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: lawan!"

Maka dari itu kita sebagai Mahasiswa tetap dalam satu ritme pergerakan yang murni untuk menegakkan keadilan di garda terdepan, namun dengan tatacara menyampaikan pendapat yang sudah di atur dalam UU No 9 Tahun 1998.

Mahasiswa yang dikenal dengan kaum yang berintekletual tentunya menyampaikan aspirasi dengan cara yang elegan, bukan dengan cara yang anarkis.

Jumat, 09 Oktober 2020

Omnibus Law: Sebuah Beleid Menuju Bobroknya Sistem Tata Kelola Negara

Oleh: Muh. Nur Fikran (Sekretaris Bidang Hikmah Pikom IMM FISIP Unismuh Makassar)


"Anda boleh menggiring kuda-kuda anda ke tepi sungai, tapi anda tidak bisa memaksa kuda-kuda itu untuk minum di sungai tersebut." (Pepatah Inggris)

Pada tulisan kali ini mengutip kalimat diatas sebetulnya penulis berpendapat bahwa ada suatu proses giring-menggiring, kurung-mengurung, dan pada akhirnya penjarahan dengan skenario yang sangat busuk pun dilakukan.

Dalam teori Max Weber dikatakan bahwa: "the state is human society that (successfully) claims themonopoly of the legitimate use of physical force within a given territory." Jadi negara pada dasarnya menurut Weber hakikatnya adalah memenopoli kekuasaan dalam sebuah sistem ketatanegaraan walaupun itu harus menggunakan cara yang represif dalam melegalkan kekuasaannya.

Menurut Maran (2001:190) Max Weber mendefinisikan kekuasaan sebagai kecenderungan seseorang untuk berperilaku sesuai kehendaknya. Gejala tersebut bersifat alamiah, karena pada hakikatnya manusia sebagai makhluk sosial tidak terlepas akan kepentingan dirinya terhadap orang lain.

Dalam prosesnya, politik banyak dimaknai sebagai kekuasaan dan legitimasi. Bahkan tahap sederhana pun dalam kehidupan manusia sudah terjadi proses politik tanpa disadari. Contohnya, seorang ayah menyuruh istrinya untuk membuatkan secangkir kopi baginya. Hal tersebut merupakan proses sederhana akan adanya politik dalam tahap kekuasaan. 

Namun seperti adagium awal yang menjadi tesis dalam tulisan ini bahwa sesungguhnya elit politik dalam sebuah negara mungkin boleh-boleh saja menggiring masyarakatnya ke dalam sistem kekuasaan yang sesuai keinginannya tapi sejatinya kekuasaan negara tidak pernah bisa memaksa masyarakat itu sendiri untuk tunduk dan patuh selaiknya budak tanpa ada perlawanan yang berarti, apalagi jika masyarakatnya memiliki pemikiran yang cerdas sejak dalam pikiran sehingga akan lebih sulit bagi kekuasaan negara untuk memaksakan kehendaknya pada rakyat yang telah kritis nalarnya dan memiliki aksentuasi gerakan yang liberatif pada tindakannya.


"Produk Kekuasaan Politik Yang Otoriter Itu Bernama Omnibus Law"

Berangkat dari kerangka paradigma teoritik diatas maka penulis mencoba mengkontekstualisasikannya pada situasi dan kondisi negara dan kebangsaan Indonesia. Jadi sebenarnya ada fenomena dimana elit (eksekutif dan legislatif) di senayan sana yang memiliki otoritas dan kekuasaan secara politik beberapa waktu terakhir ini berupaya melegitimasi kehendaknya pada 260 juta lebih masyarakat Indonesia dengan proses legislasi kebijakan yang penuh ketertutupan, keterburu-buruan, kecurangan, dan mengatasnamakan rakyat sebagai dalihnya.

Hal ini tentu diafirmasi oleh teori otoritas dan kekuasaan Weber, tapi Indonesia secara ideal adalah negara yang berangkat dari gagasan kebangsaan yang luhur dan dengan tegas menyatakan dalam deklarasi independence of state nya bahwa perbudakan, kemungkaran, kesewenang-wenangan, kecurangan, korupsi, dan segala bentuknya adalah lawan dari manifesto kemerdekaan Indonesia. 

Kemerdekaan asasi, keadilan sosial, kedaulatan rakyat, kesejahteraan masyarakat umum, supremasi hukum dan hak-hak sipil politik adalah dasar prinsipil yang menjadi interpretasi dari visi dan cita-cita kemerdekaan Indonesia yang telah dicetuskan 75 tahun lamanya dan wajib hukumnya dipenuhi oleh pemerintah.

Secara sosiologi historis, Indonesia jelas negara yang menganut sistem demokrasi atau lebih tepatnya falsafah negara Pancasila sehingga monopoli kekuasaan demi kepentingan individu elit politik itu tidak benarkan bahkan hal tersebut dinilai inkonstitusional sebab negara Indonesia adalah bangsa yang kompleks dengan musyawarah, kebijaksanaan dan permufakatan menjadi asas utama dalam sistem tata kelola pemerintahan dan sifatnya absolut prinsipil sehingga setiap produk kebijakan baik itu UU dan segala bentuk regulasi yang ada dari pemerintah dan DPR yang menjadi manifestasi politik Indonesia mestilah berdasar pada Pancasila sebagai tujuan hidup bernegara dan berbangsa yang budi dan luhur.

Namun sayangnya, fakta realitas berbanding terbalik dengan tinjauan teoritis sosiologis tersebut sehingga terjadi suatu paradoks nan kontraproduktif bernegara dalam kacamata fenomenologis dimana nyatanya selama ini baik secara prosedural maupun substantif pemerintah dan DPR nir ikhtiar dalam mengakomodasi visi dan cita-cita Pancasila sebagai falsafah berbangsa dan bernegara.

Sehingga 75 tahun lamanya persoalan kemiskinan struktural akut, pengangguran, kesenjangan sosial ekonomi, ketidakadilan dalam penegakan hukum, kejahatan HAM menjadi problematika kehidupan sehari-hari yang tidak tahu-menahu kapan masalah besar yang mengangkangi masyarakat sipil kelas menengah kebawah seperti buruh, petani, nelayan itu terselesaikan. Apa yang salah dari sistem ketatanegaraan dan tata kelola pemerintahan kita tercinta?

Jawabannya adalah kembali pada tinjauan teoritis sosiologis tadi bahwa secara paradigmatik negara kita yang mendasarkan pada konsep civil society dalam menjalankan amanat konstitusi dan falsafah negara dengan hukum dan politik menjadi instrumen utamanya. Namun dalam dinamikanya terjadi suatu kontradiktif dimana elit politik yang terpilih dalam mekanisme pemilihan umum secara moralitas dan etis menyeleweng, manipulatif dan koruptif dalam menjalankan tugasnya.

Sehingga setiap keputusan dan kebijakan politik yang diambil elit (baca: eksekutif dan legislatif) kita terus-menerus dan secara massif mengakomodasi kepentingan individual subjektif. Konsekuensi logis dan sistematisnya adalah bahwa kepentingan kolektif objektif menjadi imbasnya karena sederhananya DPR dan pemerintah yang memiliki wewenang dalam melaksanakan dan memastikan bahwa koridor Indonesia tetap dalam navigasinya yaitu berjalan pada amanat konstitusi dan falsafah negara malah mengalami kontrapolasi nir kemaslahatan.

Contoh konkritnya ialah dasar negara berubah makna dan aktualisasi nilai-nilai dimana ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, kerakyatan, kebudayaan, dan keadilan sosial secara menyeluruh kini tergantikan dengan intoleransi, kebiadaban, ketidakpastian, ketidakberesan, ketidakadilan serasa menjadi absah ketika melihat sikon negara dan bangsa teraktual ini.

32 tahun masyarakat secara fisik dan psikis pernah mengalami trauma sejarah yang kelam dimana otoritarianisme, militerisme, dan imperialisme menjadi perihal lazim dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sipil dimana hal tersebut menjadi pil pahit dan pelajaran sejarah yang tak akan pernah terlupakan. Namun, mulai dari tahun 1998 sampai sekarang negara telah menata ulang asa dan ikhtiar nya melalui mazhab reformasi yang menjadi instrumen semiotik sistem ketatanegaraan dan tata kelola pemerintahan dengan good governance menjadi outputnya dimana semua pihak bisa mengakses dan bahkan memberikan interupsi jika itu diperlukan.

Sehingga tidak dibetulkan dan ilegal jika ada beberapa pihak yang mencoba untuk membangun dinasti politik yang otoriter dan otokritik di era baru ini karena UUD 1945 sebagai dasar konstitusi dan Pancasila sebagai falsafah negara sebagai legitimasi otoritas dan kekuasaan tertinggi tidak pernah membenarkan cara-cara yang kolot, busuk dan amoral seperti itu. 

"Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak." Setelah era orde baru runtuh maka lahirlah neo-orde baru, mungkin intuisi ini agaknya benar ntuk menjelaskan situasi dan kondisi negara hari ini melalui rezim pemerintahan jokowi-ma'ruf dimana cara-cara yang manipulatif dan koruptif menjadi barang yang mudah ditemukan dalam praktek kekuasaan di era modernisasi sekarang.

Dimulai dari inisiatif pemerintah dalam merancang program kebijakan dan diteruskan oleh DPR dalam meloloskannya lalu lahirlah simalakama. Dengan cara yang tidak saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, RUU Omnibus Law disahkan menjadi UU dalam waktu relatif singkat yaitu 100 hari padahal ada 79 UU dan 174 Pasal yang termuat di dalamnya. 

Sejak awal UU Omnibus Law yang prosesnya mulai dari perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan, dan pengundangan tidak memenuhi tata cara pengukuhan perundang-undangan. UU Omnibus Law Cipta Kerja adalah proses kecurangan legislasi karena cacat formil dimana Naskah Akademik nya dari sebelum sampai sesudah UU Omnibus Law ini disahkan itu sangat sulit diakses oleh publik dengan adanya privatisasi pemerintah dalam menyusun draf dan membahas RUU nya.

Padahal dalam UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan sangat jelas menekankan bahwa mazhab hukum negara Indonesia adalah keterbukaan, keterlibatan, serta waktu dalam mekanisme pengukuhan perundang-undangan yang dalam prosesnya sangat prosedural dan substansial sehingga indikator keberhasilannya perlu diuji secara teoritis sosiologis naskah akademiknya, perlu konsultasi sosial dalam ditinjau drafnya secara substantif dan dikaji yurisdiksi nya secara mendalam dan menyeluruh.

Selain itu, dalam pengesahan UU Omnibus Law prinsip-prinsip transparansi dan partisipasi masyarakat sipil disingkirkan sehingga UU Omnibus Law tidak hanya cacat secara formil namun juga inkonstitusional sebab indikator seperti konsultasi publik atau konsultasi pada pakar tidak terpenuhi di dalam proses pengundangannya.

Secara persepsi yuridis, metodologi penyeragaman kebijakan atau Omnibus Law tidak pernah memiliki dasar hukum karena dalam UU No 12 Tahun 2011 tidak pernah mengakomodir metode atau cara penyusunan kebijakan atau hukum seperti model Omnibus. Sehingga secara yurisprudensi, Omnibus Law intinya tidak berangkat dari ide-ide atau gagasan substansial melainkan berangkat dari kepanikan pemerintah dalam mengatur sistem ketatanegaraannya. Ketergesa-gesaan pemerintah dalam mengelola dana negara yang mulai mengalami resesi akibat pandemi.

Implikasi dari produk kebijakan Omnibus Law ini jelas mengembalikan kekuasaan yang neo-kolonialisme atau neo-orde baru dari persekongkolan elit politik dan oligarki di senayan. Beleidnya terang-terangan yaitu mengantarkan negara pada kebobrokan berbangsa yang amoral dan disintegritas bernegara yang nir etis.


Permasalahannya Omnibus Law Adalah Produk Kebijakan Pemerintah dan DPR Yang Cilaka

"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya." Lagi-lagi peribahasa ini mungkin sangat tepat untuk menjelaskan apa yang pemerintah dan DPR kerjakan dimana mereka secara kompak melakukan pengkhianatan kepada rakyat melalui produk legislasi UU yang disusun menggunakan metodologi penyeragaman atau peleburan-penggabungan berbagai produk kebijakan berdasarkan dalih pemerintah yaitu produk kebijakan perlu diseragamkan karena berbagai kebijakan dianggap tumpang tindih dan berbelit-belit mekanisme pelaksanaannya.

Dengan alasan kuantitas investasi yang lebih namun kualitasnya buruk maka DPR dan pemerintah merasa perlu membuat kebijakan yang membuka keran investasi selebar-lebarnya agar penciptaan lapangan pekerjaan pun terbuka seluas-luasnya.

Paradigma pembangunan ekonomi yang seperti itu terkesan kuno karena sebenarnya ekosistem investasi di Indonesia itu baik-baik saja bahkan Indonesia masuk 20 besar sebagai penerima terbaik investasi asing di dunia pada tahun 2019 lalu. Bahkan, peranan investasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di era pemerintahan Joko Widodo mencapai 34 persen dan terbilang yang tertinggi sepanjang sejarah RI.

Di lain sisi, secara faktual investasi yang selama ini dianggap menunjang pertumbuhan ekonomi nasional atau PDB itu tidak berbanding lurus dengan persoalan perbaikan ekosistem ketenagakerjaan di Indonesia yang dalam kajian ekonomi politik menemukan hasil bahwa investasi masih belum mampu memberdayakan buruh dan kaum pekerja. 

Data rasio penambahan modal terhadap pertumbuhan ekonomi atau Incremental Capital Output Ratio (ICOR) membuktikan bahwa efisiensi investasi dalam meningkatkan pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) masih mengalami kendala. 

Masalahnya adalah, kualitas investasi di Indonesia saat ini sangat minim dan hal tersebut bukan disebabkan oleh masalah ketenagakerjaan tetapi karena banyaknya korupsi dan birokrasi di dalam negeri yang berbelit. Namun paradoksnya ialah bukannya pemerintah merevitalisasi lembaga KPK untuk semakin massif dalam memberantas KKN serta menegakkan reformasi birokrasi yang efektif dan efisien dalam upaya memperbaiki kualitas investasi dan ketenegakerjaan. 

Malah ketenegakerjaan yang dilemahkan hierarki yurisdiksi nya dimana pengaturan upah, jaminan sosial, pesangon, waktu istirahat dan cuti, serta kontrak kerja dan outsourcing adalah hak-hak buruh yang telah diatur sedemikian rupa fungsi dan substansinya dalam No 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan itu kemudian hendak dikebiri dalam UU Omnibus Law. 

Agenda reformasi 1998 yang mengeliminasi sentralisasi kekuasaan pemerintah pusat dengan menerapkan konsep otonomi daerah melalui TAP MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah, Pengaturan, Pembagian, dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yg Berkeadilan, serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka NKRI. Dan dalam UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. 

UU Omnibus Law hendak mengkorupsi agenda reformasi dengan mendekonstruksi desentralisasi lalu merevitalisasi sentralisasi kekuasaan pemerintah pusat. Kedudukannya jelas Omnibus Law hanya bisa di dekonstruksi oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah bahkan DPR sekalipun tidak memiliki hak veto atau menjalankan fungsi interupsi kebijakan jika dinilai ada yang bertentangan dengan amanat konstitusi dan falsafah negara.

Pada akhirnya bukan UU per UU dan Pasal per Pasal yang menjadi tolakan dalam produk kebijakan Omnibus Law atau 11 klaster pembahasan yang sarat konflik kepentingan di dalam Omnibus Law. Melainkan #MosiTidakPercaya adalah satu bentuk peringatan keras bahwa ada proses demokratisasi, desentralisasi, dan dekonsentrasi pembangunan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat yang gagal di jalankan dengan baik oleh rezim pemerintah dan DPR saat ini karena telah berani dan terang-terangan melakukan pengkhianatan terhadap amanat konstitusi UUD 1945 dan cita-cita luhur bangsa yang termaktub dalam falsafah negara Pancasila.

Seperti kata politisi Amerika, "Korupsi terbesar dalam pemerintahan itu adalah hilangnya kepercayaan." 



Note. Jika ada kesamaan narasi, kutipan kalimat atau tokoh maka sejatinya kita se-frekuensi dan satu tarikan nafas perjuangan.


*Tulisan ini dibuat sebagai bahan refleksi, telaah dan respon kritis terhadap UU Omnibus Law yang disahkan oleh DPR dan Pemerintah melalui Badan Musyawarah pada tanggal 5 Oktober 2020.

Rabu, 30 September 2020

Masih Perlukah G30S/PKI diperingati?

Oleh: Immawati Nur Alifhia Muhammad (sekretaris bidang riset dan pengembangan keilmuwan Pikom IMM Fisip Unismuh Makassar) 


Peristiwa G30S/PKI atau lengkapnya kita kenal dengan Peristiwa Gerakan 30 September yang biasa juga disingkat dengan Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) adalah suatu peristiwa yang bersejarah di indonesia yang tepatnya teradi pada malam hari tanggal 30 September sampai 1 Oktober 1965.

Pada kejadian malam itu tujuh perwira militer Indonesia dan beberapa orang lainnya dibunuh karena dinilai sedang melakukan sebuah usaha percobaan kudeta. Gerakan ini bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan presiden Soekarno dan mengubah Indonesia menjadi negara komunis.

Peristiwa gerakan ini terjadi di Jakarta dan Yogyakarta yang dipimpin oleh DN Aidit yang juga merupakan ketua dari Partai Komunis Indonesia. Target mereka adalah mengincar perwira TNI AD Indonesia, mereka adalah Letnan Jendral Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jendral Raden Soeprapto, Mayor Jendral Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jendral Siswondo Parman, Brigadir Jendral Donald Isaac Panjaitan, Brigadir Jendral Sutoyo Siswodiharjo.

Dan satu panglima TNI AH Nasution yang menjadi target utama berhasil meloloskan diri, namun putrinya Ade Irma Nasution tewas tertembak bersama dengan ajudannya, Lettu Pierre Andreas Tendean diculik dan ditembak di Lubang Buaya. 

Mengetahui banyak korban jiwa, presiden Soekarno langsung memberikan mandat kepada Mayor Jenderal Soeharto untuk membereskan apapun yang berkaitan dengan PKI. Alhasil sekitar seribu orang dimasukkan kedalam Mahkamah Militer Luar Biasa termasuk ketua PKI pada saat itu yakni DN Aidit.

Dengan keberhasilan Soeharto dalam memberantas PKI serta terbitnya Surat Perintah Sebelas Maret atau biasa disingkat dengan Supersemar mengiringi langkah Soeharto ke tampuk pemerintahan Orde Baru yang disingkat dengan ORBA. Ada pun isi dari Supersemar itu berupa intruksi Presiden Soekarno kepada Letjen Soeharto, selaku panglima Angkatan Darat, untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu dalam mengawal jalannya pemerintahan pada saat itu.

Pada rezim Orde Baru, pada saat itulah G30S/PKI atau Gestapu sedang gencarnya diperingati setiap tanggal 30 September, sampai masa akhir pemerintahan Soeharto yaitu pada tahun 1998. Lalu, apakah pada era ini masih perlu untuk memperingati peristiwa tersebut?

Ya tentu saja, kita harus senantiasa memperingati Peristiwa G30S/PKI salah satunya yaitu untuk menghindari bahaya laten komunis di kalangan masyarakat, karena paham ini sangat bertentangan dengan Ideologi negara Indonesia khususnya dalam sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan yang maha esa. 

Dalam buku Soegiarso Soerojo yang berjudul Siapa yang menabur angin akan menuai badai dia mengutarakan pendapat seorang tokoh komunis Indonesia yaitu Alimin dia mengatakan bahwa, “Partai komunis yang betul-betul revolusioner, harus berkata dengan terus terang, bahwa partai komunis tidak dapat menerima Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan orang-orang komunis merasa jijik untuk menutup-nutupi pandangan dan tujuannya. Pancasila adalah bertentangan dengan dialektika materialisme.” 

Serta dengan memperingati peristiwa ini, generasi kita bisa mengetahui buruknya komunis bagi persatuan dan kesatuan bangsa serta semakin semangat dalam mengimplementasikan nilai-nilai ideologi pancasila. Seperti yang kita ketahui bahwa tidak ada satupun nilai pancasila yang mengarah pada tindak kejamnya ideologi komunis. 

Pancasila dihargai mati dan dengan kekuatannya menolak komunisme. Nilai pancasila juga sangat mengutuk keras segala upaya yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa. Oleh karena itu menjaga nilai-nilai pancasila sama dengan menjaga bangsa Indonesia.

Senin, 28 September 2020

REFORMASI BELUM SELESAI: "SEBUAH ULTIMATUM"

 Oleh: Muh. Nur Fikran (Sekbid Hikmah Pikom IMM Fisip Unismuh Makassar)



"Petani miskin bukan karena hama, tetapi disebabkan oleh tata niaga yang tidak adil". (Pidi Baiq)

Sebagai kata pengantar rasa-rasanya itulah penggambaran paling konkrit mengenai sikon negara kita hari ini. Negara yang dijuluki sebagai negeri agraris kini sedang mengalami suatu paradoks kondisi yang sangat-sangat memprihatinkan.

Reformasi 98 yang menjadi tonggak bangsa menuju arah baru yang bermuara pada cita-cita luhur yaitu mewujudkan kemerdekaan asasi, keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat adalah sebuah manifestasi kesadaran politik masyarakat yang selama 3 dekade lebih di gandrungi ketertindasan dan kemelaratan yang akut.

Reformasi 98 hadir sebagai representasi bahwa negara ingin keluar dari kesesatan berpikir dan dosa-dosa politik yang selama 32 tahun terus menghantui psikis dan fisik masyarakat Indonesia. Sehingga spirit Pancasila dan konstitusi UUD 1945 menjadi jargon yang digaungkan dengan nyaring oleh para intelektual dan masyarakat sipil di seluruh penjuru Nusantara.

Namun semua itu hanyalah sebuah kisah manis nan pilu sebab, kini negara kita sedang mengalami krisis pangan yang diperparah dengan terjadinya resesi ekonomi di waktu yang bersamaan. Negara kita yang selama ini mengandalkan impor dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional mengalami defisit lumbung pangan sebab negara-negara yang menjadi eksportir pangan ke Indonesia itu menstop ekspor sehingga krisis pangan tak mampu terelakkan lagi. 

Sikon saat ini patut di pertanyakan sebab ada apa sehingga negara kita bisa-bisanya mengalami krisis pangan? Jawabannya ialah negara kita hari ini sibuk membangun infrastruktur di lahan tani masyarakat sehingga yang terjadi adalah masyarakat harus menanggung nasib bahwa lahan taninya kini menjadi pemandangan yang absurd.

"Negara sibuk membangun lupa menanam", sehingga masyarakat akhirnya harus makan hati dan menanggung lapar yang berkepenjangan karena beton tentunya tidak bisa makan. Paradigma pembangunan atau developmentalisme ala pemerintahan Joko Widodo benar-benar menjadi simalakama bagi masyarakat yang hari ini kepentingannya tidak terakomodasi lagi karena kepentingan oligarki politik di senayan menjadi barang mahal yang mesti dibayar meski harus membuat rakyatnya sendiri menderita.

Semua regulasi yang tidak sesuai dengan kepentingan oligarki politik atau yang bertentangan dengan mekanisme paradigma pembangunan pemerintah itu secara instan dan terburu-buru di ubah sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan oligarki politik sehingga Omnibus Law menjadi silabus utama dari semua perihal tersebut.

Omnibus Law yang sementara ini masih berbentuk dalam RUU mengandung banyak paradoks hukum dan politik yang jelas-jelas bertentangan dengan amanat konstitusi UUD 1945 dan falsafah negara Pancasila. Secara paradigma civil law atau hukum sipil semua regulasi yang menjadi turunan dari dasar konstitusi dan falsafah negara mestilah direvisi atau bahkan di hapuskan karena tentunya sangat bertentangan dengan semangat kemerdekaan asasi dan keadilan sosial yang menjadi cita-cita utama didirikan nya bangsa Indonesia tercinta ini.

Kemudian, banyak hal dan banyak peristiwa terjadi di negara Indonesia ini yang secara substantif bertentangan dengan ideologi negara yang termaktub secara konkrit di dalam 5 butir Pancasila, seperti refresifitas aparat terhadap demonstran, tindakan kriminalisasi terhadap rakyat yang memperjuangkan lahannya, diskriminasi terhadap aktivis yang menyuarakan pendapat dan sikap oposisi terhadap pemerintah di media, penggusuran dan pengrusakan lahan dan hutan adat secara secara sepihak serta sewenang-wenang tanpa adanya tindak hukum, inkonsistensi bernegara dari para eksekutif dan legislatif melalui janji palsu selama kampanye politik, birokrasi yang manipulatif dan koruptif adalah pemandangan sehari-hari yang tidak sulit untuk kita temui di negara kita saat ini.

Semua fakta paradoks bernegara tersebut menjadi problem serius dan mesti diselesaikan secepatnya dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya sebab kita tidak boleh lagi memaklumi ataupun mengkompromikan hal yang seperti itu. 

Idealisme bernegara dan jiwa kritis berbangsa menjadi dua hal yang hari ini hilang di semesta pemerintahan baik itu di pusat maupun di daerah sehingga suara oposisi dari mahasiswa menjadi barang langka dan mahal yang harus tetap ada. Sebab jika tidak, maka matilah negara dan bangsa kita dikoyak-koyak oleh perselingkuhan investor dan oligarki politik.

Semua permasalahan yang di paparkan diatas solusi nya sangat sederhana, pertama; jalankan reforma agraria sejati dan revitalisasi UUPA 1960 sebagai regulasi utama dalam menopang proyeksi program kedaulatan pangan negara dan memaksimalkan ketersediaan SDA sebijak-bijak dan sebaik-baiknya demi kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat. 

Kedua, revisi atau bahkan batalkan RUU Omnibus Law Cipta Kerja yang memiliki semangat dan substansi membajak, merampas, dan merampok hak-hak rakyat baik secara sisi asasi maupun sisi sosio-ekonomi masyarakat.

Ketiga, tegakkan reformasi birokrasi yang riil demi menuju birokrasi yang anti manipulatif dan koruptif. Politik birokrasi atau intervensi politis petahana adalah budaya lama dan kuno yang mesti dihilangkan sebab fenomena amoral birokrat dan politisi kita tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh sistem politik birokrasi tersebut.

Keempat, paradigma pembangunan pemerintah atau developmentalisme ala Jokowi adalah ibarat 'kembar siam' dengan paradigma pembangunan era orde baru dulu yang telah digantikan oleh era reformasi karena mekanisme kepemimpinan yang otoriter, otokratis, dan militeristik benar-benar menghancurkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat pada saat itu dimana kemerdekaan asasi, keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat adalah hal nihil yang sampai kapanpun tidak akan terwujud di bawah kuasa tirani seperti itu. 

Sehingga pemerintahan Jokowi perlu secepatnya kembali pada ruh dan jiwa bangsa yang selama ini ditenggelamkan oleh hawa nafsu buta dan keserakahan elit politik kita yaitu kembali menanam dan hentikan pembangunan fisik yang tidak berarti apa-apa bagi kelangsungan hidup masyarakat. Kedaulatan pangan dan kedaulatan rakyat mesti menjadi dua kunci utama dalam roda pemerintahan Jokowi kedepannya.

Terakhir, sebagai penutup dalam ultimatum ini ialah bahwa penulis ingin berpesan pada mahasiswa dimanapun kalian berada yang masih memperjuangkan idealisme nya melalui aksi demonstrasi di jalanan. 

Pesannya ialah, "Bagi mahasiswa kata-kata adalah senjata dan semangat massa aksi adalah pelurunya. Maka dari itu, setiap kata yang disampaikan mestilah di barengi semangat bara api dari massa aksi dengan kalimat yang substantif sebab suara dari parlemen jalanan adalah suara-suara yang tidak mengandung unsur manipulatif atau unsur koruptif di dalamnya karena mahasiswa adalah telinga, mata, hati dan mulut masyarakat itu sendiri." 

"Dengan terus mengalir ke lautan, sungai tetap setia pada sumbernya". Bila ada kesamaan narasi, kalimat atau kutipan tokoh maka sejatinya kita se-frekuensi dan satu tarikan nafas perjuangan.


Billahi Fii Sabilil Haq

Fastabiqul Khairat


Note. Tulisan ini adalah sebuah refleksi dari aksi demonstrasi "Gerakan Mahasiswa Sospol Unismuh Makassar" yang di gelar pada hari senin, 28 September 2020.

Kamis, 13 Agustus 2020

Pemimpin adalah sebuah keniscayaan

Pemimpin adalah sebuah keniscayaan


“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata, mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. al-Baqarah/2: 30)

Allah tetapkan manusia sebagai khalifah. Di antara tugas mereka ialah memakmurkan bumi, menegakkan Al-Haq (kebenaran agama Allah) dan keadilan di tengah-tengah manusia. Sebab itu, Allah bekali manusia dengan berbagai ilmu melalui wahyu yang diturunkan kepada para Rasul-Nya. Khilafah ini hanya Allah berikan kepada manusia dan tidak diberikan kepada makhluk-Nya yang lain, kendati kepada malaikat sekalipun. Ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia sehingga para malaikat diperintahkan Allah sujud kepada Adam. Kemuliaan tersebut hanya melekat pada diri manusia selama mereka menjalankan visi hidup yang Allah tetapkan.

Bahwasanya Pemimpin dan kepemimpinan adalah suatu hal yang berbeda. Namun, keberadaannya tidak dapat dipisahkan. Pemimpin pada dasarnya adalah menggambarkan sosok orang atau figure yang dengan berbagai prasyarat (requeirmen) tentang pemahaman konsep, keahlian dan keterampilan serta pengalaman untuk menjalankan peran sebagai pemimpin. Pemimpin dalam menjalankan perannya secara pribadi dituntut untuk memiliki mentalitas dan kematangan emosi yang bagus. Hal tersebut diperlukan karena dalam menjalankan peran sebagai pemimpin akan berhadapan dengan masyarakat banyak (publik)  dengan berbagai macam latar belakang, baik tingkat pendidikan atau ilmu pengetahuan, kepribadian, tingkat emosi yang berbeda-beda. Sehingga seorang pemimpin harus dapat menciptakan dan mempertahankan aktivitas kelompok yang berkaitan dengan tugas yang harus dilaksanakan oleh pemimpin itu sendiri yaitu mengarahkan para pelaksana tugas secara bersama-sama mencapai tujuan organisasi.

Kepemimpinan memainkan peranan yang penting dalam organisasi. Berhasil tidaknya suatu organisasi salah satuya ditentukan oleh sumber daya yang ada di dalam organisasi tersebut. Pada dasarnya kepemimpinan adalah suatu sikap mempengaruhi orang lain untuk mencapai suatu tujuan dengan visi dan misi yang kuat. Efektivitas seorang pemimpin ditentukan oleh kepiawaiannya mempengaruhi dan mengarahkan para anggotanya. Tentunya pihak pemimpin harus mempunyai kemampuan dalam mengelola, mengarahkan, mempengaruhi, memrintah dan memotivasi bawahannya untuk memperoleh tujuan yang diinginkan.

Jika berbicara tentang kepemimpinan pasti dipikiran masyarakat umumnya identik dengan kaum adam atau pria padahal jika kita menelaah perempuan juga mempunyai jiwa kepemimpinan, yang tidak jauh berbeda keahliannya dalam memberi arahan, dalam berorasi maupun beretorika atau bahkan memberi gagasan.

Semua orang berhak dan dapat menjadi pemimpin (leadership), Pada hakikatnya tiap-tiap wanita adalah seorang pemimpin dan melakukan kepemimpinannya dalam lingkungan masing-masing, baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan kerja, dan dalam masyarakat. Wanita tidak semuanya lemah ia ibarat sebuah bangunan yang kokoh dan merupakan fondasi yang berstruktur kuat. Sosok perempuan yang sensitif, intuitif, empati, suka merawat, mampu bekerjasama, dan mengakomodasi dapat menjadikan proses-proses organisasi menjadi efektif (Growe, 1999)". Gaya kepemimpinan perempuan yang cenderung partisipatif memberi prioritas tinggi pada pengembangan sumber daya insani, juga kepedulian pada detail membuat gaya kepemimpinan mereka sangat cocok di era inovasi saat ini. Dan sekaligus menunjukan kepada kita bahwa perempuan dalam kepemimpinanya mampu mencapai prestasi yang lebih berhasil ataupun gemilang dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Ini dapat dilihat dari perannya pada kehidupan bermasyarakat, misalnya disebabkan adanya dukungan kemampuan dalam hal pendidikan, pengalaman berorganisasi dan motivasi dari kaum perempuan itu sendiri maka mereka bisa membuktikan ke dunia bahwa mereka bisa menjadi pemimpin.

Dengan terciptanya kesempatan perempuan memegang peranan sebagai kepemimpinan dapat membawa dampak yang positif yaitu permasalahan kesetaraan gender ditandai dengan tidak adanya perbedaan (diskriminasi) antara perempuan dan laki-laki. Dengan demikian perempuan dan laki-laki memiliki peluang atau akses yang sama dalam kepemimpinan. Hal itu ditandai dengan perempuan yang mampu memberikan suara, berpatisipasi dalam pembangunan negara yang lebih baik. Tentu hal ini merupakan kebijakan tersendiri yang memiliki manfaat persamaan serta adil dari pembangunan. Hal ini harus selalu dibuktikan bahwa wanita dapat semakin maju dalam kemimpinan.

Dalam kepemimpinan terutama dalam pembangunan sekarang ini, perempuan sangat dibutuhkan terutama dalam segi pemikiran dan kreasi untuk pengembangan dalam mewujudkan tujuan. Dengan demikian, kaum wanita mampu mengikuti derap langkah dan lajunya pembangunan nasional seirama dengan kaum pria sebagai mitra sejajarnya tanpa meninggalkan harkat, martabat, dan kodratnya sebagai wanita. Tidak ada yang salah bukan jika perempuan menjadi seorang pemimpin. Maka diharapkan kepada semua perempuan perempuan yang ada di seluruh dunia untuk terus semangat dalam mencapai cita-cita.

"SETIAP KALIAN ADALAH PEMIMPIN DAN BERTANGGUNG JAWAN TERHADAP KEPEMIMPINANNYA"


Minggu, 12 Juli 2020

IMPACT PANDEMI COVID-19 BAGI SEMANGAT PEMUDA

Penulis : Nur Fadilah (Ketua Bidang Kader Pikom IMM Fisip Periode 19/20)

Sebelum membaca ini.. mari letakkan otak kita pada konsep berpikir dewasa ya bung. Kita semua dewasa kan yaa, saya dan kamu iya kamu yang baju merah. Hemm oke kita patahkan pepatah usia tak menjamin kedewasaan, terlepas dari atribut dewasa versi biologis. 

Pepatah diatas sejak awal telah banyak disalah gunakan dan menjadikan maknanya berat sebelah, bagaimana tidak, dari kata ini sering di tafsirkan bahwa usia kepala dua hingga kepala keluarga tidak menjamin matangnya keribadian seseorang. Secara tidak langsung telah menindas sebagian ummat tak bersalah. Bagi saya semua orang dewasa dengan versinya masing-masing. Mengingat  setiap orang punya jatah salah dan benarnya masing-masing juga. 

Dalam buku Tatang Sutarma Definisi dewasa itu fleksibel, mengingat dewasa selalu di identikkan dengan kepribadian yang matang. Seorang anak kecil bisa mendadak dewasa ketika ia melihat orang tua cek-cok didepannya dan ia menilai itu adalah hal yang tidak benar dan mengambil pembelajaran, seorang direktur pimpinan perusahaan yang terlihat berkharisma dan berwibawa dihadapan karyawannya, pulang kerumah juga bisa nangis kalau di omeli emak.  Sepertinya rumit ngebahasnya padahal kesimpulannya bacaan ini cocok untuk semua kalangan. Itu saja

Oke lanjut ke topik utama…

4 kualitas anak muda yang harus dimiliki dalam menghadapi tantangan zaman versi Sherly Annavita:
“Be a good one, be a better one, be the best one and be an axecellent one.”

Impact Corona Bagi Pemuda?

Jangan menyimpulkan isi dulu sebelum menyelam, agar tak kecewa gara-gara kebanyakan ngarep.

Itu hanya magnet untuk jari jempol para reader yang budiman biar jiwa penasarannya meronta untuk membaca tulisan ini.. yaa meskipun cuma sekedar baca judul wekaweka. tapi harapannya lebih tepatnya agar kita tak terbiasa menjudge sesuatu dari sisi sekilas yang nampaknya saja. Judul tulisan ini sederhana “Masa Muda Masanya Berkarya”.

Berbicara soal masa muda tentu menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan. Sebab ia unik dan penuh tantangan. Disitulah kita mengalami banyak peralihan situasi hidup yang membuat kita harus banyak belajar berdamai dengan kondisi yang ada. Memaksa diri untuk memulai dan mengubah banyak hal, meninggalkan pikiran dan sikap anak kemarin sore sebab ukurannya bukan lagi persoalan siapa yang duluan makan garam tapi melainkan siapa yang paling banyak makan micin. ehh 

Fenomena bertambahnya umur seseorang saat ini seolah sudah menjadi penantian bagi sebagian orang bebab selalu sepaket dengan euforia sekilas lewat ucapan dan kue bolu, yang tanpa sadar disitu juga sepaket dengan kosekuensi beban hidup yang semakin bertambah. Ibarat minum kopi di warkop, yang kita beli tentu bukan hanya kopinya saja tetapi harus suasananya juga. Kata bang Arham (Penulis Kendari).

Sadar atau tidak pemuda hari ini terlalu banyak terkurung di ekpektasi yang pada akhirnya banyak nuntut ketika realitas yang terjadi tak sesuai harapan, ingin hak dipenuhi namun melupakan kewajiban. Inginkan revolusi namun lebih banyak berdiam diri (diam bae), padahal salah satu penyebab banyaknya kejahatan adalah diamnya orang-orang polos.

Anggapan kita  banyak main dan kongkow-kongkow tak berfaedah sama teman sudah bisa dikatakan hidup, tapi nyatanya hidup tak sesederhana itu. Realitas menepuk bahu kita untuk mulai merancang besok mau jadi apa? kemarin punya prinsip hidup harus dinikmati telah menjelma menjadi santuy kebablasan, hari ini harus mulai mikir besok mau makan apa? Kemarin hanya mikirin diri sendiri kondisi menyadarkan kita untuk lebih peduli dengan orang lain.

Masa muda masanya berkarya.

Secara sadar banyak dari kita yang berpotensi menjadi orang besar namun kemalasan membuat kita tak menyadari potensi itu. Banyak pula yang menyadari namun tak mau mengasah. Ada pula yang mulai menekuni namun tak memiliki titik fokus. Apapun potensi yang kita miliki pada  dasarnya semua berpeluang untuk membawa kita pada kesuksesan. Bruce Lee pernah berkata “Aku lebih takut kepada orang yang melatih satu jenis tendangan sebanyak 1000 kali, daripada seseorang yang melatih 1000 jenis tendangan hanya satu kali".

Berbicara persoalan sukses, setiap orang punya takarannya masing-masing. Tapi alangkah baiknya kita mengambil porsi paling besar atau mengambil tolak ukur yang paling tinggi, setidaknya ketika jatuh, kita jatuh diantara bintang-bintang kata bapak presiden pertama Ir Soekarno. Sebab ketika kita ambil tolak ukur terendah kalau gagal bagaimana? Jatuhnya kan sakit langsung kerseret di tanah. 

Tanpa sadar prinsip menyederhanakan mimpi adalah sebuah ketakutan yang menjelma memanjakan kita. Teruslah bermimpi tanpa membatasi, asal jangan juga mimpi lebih tinggi dari usaha nanti malah terjerumus dosa karena kebanyakan berangan-angan. Satu hal yang pasti, yang kita cari bukan hanya persoalan banyak dan bidang apa yang kita tekuni, melainkan berkah dan kebermanfaatannya, karena hidup memang begitu, selalu menuntut keseimbangan.

Mari mulai memikirkan.. Karya apa yang hendak kita ukir di masa muda. Peran apa yang akan kita ambil untuk diwariskan ke generasi selanjutnya, sebanyak apa pengalaman yang ingin kita ukir untuk diceritakan dihari tua. Jangan sampai timbul penyesalan di kemudian hari karena menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

Kini, teknologi sudah sampai di berbagai pelosok negeri bahkan daerah yang terpencil sekalipun. Tak ada lagi alasan untuk tidak produktif. Jika gajah mati meninggalkan gading maka manusia mati meninggalkan karya, ya tentunya karya yang bermanfaat agar bisa menjadi amal jariyah. “Membaca, menulis dan berkarya.”

Pertanyaannya bagaimana dengan kita, persiapan hari ini sudah sejauh mana menghadapi era generasi Alfa? Coba mulai berdiskusi  dengan diri kita masing-masing. Untuk penulis yang malang pun demikian, yang belum juga sarjana di penghujung musim hujan yang tak kunjung mereda ini. Hem tak apalah dahulukan yang tua (pembelaan).

Akhir kata, menulis ini bukan berarti saya sejengkal lebih depan dari teman-teman, ini hanyalah bagian dari refleksi pemikiran beberapa influencer kaum milenial dan sedikit intisari ilmu dari buku yang nyangkut di dengkulku.

Kalau ada yg keliru dan garing dimaafkan  #sekedarcorettcoret :D

Tak banyak yang bisa saya bagikan, ini hanyalah do’a dan to’a untuk membangunkan penulis.

Selamat menikmati new normal. Tetap patuhi rambu-rambu protokol Covid-19 :)

Rabu, 24 Juni 2020

Corak Pemikiran Feminis Islam vs Corak Pemikiran Feminis Barat

Oleh: IMMawati Jumarni (Dept. Bidang Organisasi, Alumni SKI IV PIKOM IMM Fisip)



Konstruksi gender dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh agama dan ideologi yang dianutnya, maka wacana teologi gender mulai  bergulir. Anggapan bahwa pemahaman agama bias gender membuat arah baru gerakan feminisme, dimana para feminis mulai menawarkan pemaknaan baru terhadap agama sekaligus membongkar dogma-dogma agama yang telah mapan dan dianggap membelenggu kaum perempuan. 

Kedudukan kaum perempuan di Barat sangat terkungkung, baik dalam kehidupan rumah tangga sebagai istri maupun yang berkenaan dengan hak-hak kemasyarakatan. Posisi kaum perempuan pada saat itu tak begitu jauh bedanya dengan kedudukan perbudakan yang diperlakukan semena-mena, pada waktu itulah timbul di benua Eropa gerakan perempuan yang dinamakan gerakan emansipasi. Ketika wacana teologis tentang perempuan dibuka dan menjadi diskursus yang cukup ramai, maka pembahasan dogma-dogma agama mulai muncul dan berkembang. 

Menurut pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Ali Khumaini, kesalahan paradigma Barat mengenai posisi dan kedudukan perempuan dalam masyarakat karena melihat manusia dalam dua kategori ekstrim, perempuan dan laki-laki. Dunia Barat melihat hubungan laki-laki dan perempuan secara diametral yang saling bertentangan, bukan sebuah posisi yang saling melengkapi dan menyempurnakan. Dalam makalah ini kami mencoba membandingkan dan mengaitkan bagaimana corak pemikiran yang dibangun oleh kaum feminis Barat dan feminis Muslim.

Feminisme adalah serangkaian gerakan sosial, gerakan politik, dan ideologi yang memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mendefinisikan, membangun, dan mencapai kesetaraan gender di lingkup politik, ekonomi, pribadi, dan sosial. Secara istilah/terminologi Feminisme itu adalah adalah sebuah gerakan  perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. 

Secara etimologis feminisme berasal dari bahasa Latin, yaitu femina yang berarti perempuan. Feminisme itu sendiri ada pada tahun 1890 yang digunakan pada saat itu untuk mengkampayekan hak-hak perempuan di setiap lini kehidupan sosial, politik maupun dikehidupan pribadi.

Relevansi Pemikiran Feminis Islam dan Pemikiran Feminis Barat, yaitu didalam Islam tidak ada perbedaan hak dan tidak ada penindasan terhadap perempuan oleh kaum laki-laki, akan tetapi perlu diketahui bahwa antara laki-laki dan perempuan ada perbedaan baik secara biologis maupun naluri diakui atau tidak, mau ataupun tidak menafsirkan syariat Islam. Feminisme juga dijadikan sebagai alat analisis yang dapat menghadirkan kesadaran baik laki-laki ataupun perempuan sendiri. 

Berbeda dengan aliran feminisme yang ada di Barat, yang dipengaruhi ideologi yang berkembang sehingga melahirkan aliran fanatik terhadap suatu ideologi sebagaimana yang kita lihat dalam pembagian aliran feminisme barat yang telah diuraikan diatas, karena memang yang menjadi dasar ideologi agama Islam adalah al-Qur’an dan Hadist sehingga tidak ada aliran-aliran feminisme sebagaimana di Barat. Akan tetapi memang di beberapa Negara Islam ada sebuah gerakan misalnya di Mesir, Turki, Pakistan yang bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, misalnya hak mendapatkan pendidikan, kiprahnya dalam bidang sosial, bidang agama ini terjadi pada abad ke-19. 

Agama-agama di dunia memiliki peran dan prinsip-prinsip yang hampir sama, tentang keharusan kaum perempuan yang harus mengikuti kaum laki-laki dimana konsep patriarki itu tumbuh. Banyak klaim dan dalil-dalil yang diduga berasal dari Tuhan, maskulin yang menetapkan nilai klasifikasi serta kekuasaan laki-laki didalam rumah tangga maupun lingkungan sosial masyarakat. Kaum laki-laki lebih kuat atau berkuasa daripada kaum perempuan, bahkan perempuan diciptakan dari bagian tubuh kaum laki-laki. Perempuan bukanlah makhluk lemah kualitasnya dibandingkan kaum laki-laki, sebagaimana diasumsikan banyak orang. 

Bahkan sejarah telah berbicara kepada kita bahwa perempuan telah memberikan sumbangsih intelektual pertama dalam peradaban dunia, perempuan lebih dahulu berpikir dengan akalnya dibandingkan kaum laki-laki. Dialah (Hawa) kaum perempuan yang menjadi pelopor pembangunan ilmu pengetahuan dan peradaban dunia dalam sejarah kemanusiaan. 

Menurut Nawal El-Saadawi kaum perempuan tidak akan terbebaskan dari sistem patriarki kecuali dari diri mereka sendiri yang mulai merubahnya dan berusaha untuk mengangkat harkat dan martabatnya dengan mengusung gagasan perubahan dan modernisasi. Perempuan haruslah kuat dimulai dari pribadinya masing-masing, menurut beliau perempuan harus bisa terbebaskan dan berani menyikap tabir pikiran mereka, yaitu kesadaran palsu, kesan-kesan minor, dan sikap lemah yang selama ini melekat pada kaum perempuan. Sehingga nantinya akan muncul sebuah kesadaran baru pada diri mereka bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan berarti antara dirinya dan kaum lelaki. Setelah itu mereka akan menjadi suatu kekuatan politik yang memiliki otoritas dalam mengambil keputusan yang besar, semua ini akan terwujud melalui organisasi keperempuananyang sadar akan hak-hak dan tujuan.

  AI Bukan Musuh: Bijak Memanfaatkan Kecerdasan Buatan tanpa Mengabaikan Etika Digital dan Hak Cipta Oleh : Aghil Adrian Aryananda & Y...