IMM PERANTARA HIDAYAH KU
Karya : IMMawati Selfi Marindang
IMMKU...
Darimu ketemukan jalan hidup yang damai dalam hati
Tertera jelas di dalam memori ku segala fenomena yang terjadi
Dahulunya Diri dan sukma ini seakan terbius oleh fana dunia
Jiwa, raga dan waktu enggan beranjak untuk meninggalkannya
IMMKU...
Mengingat akan masa lalu membuat hati ini tersayat olehnya
Maksiat, dosa, hanya di anggap hal biasa yang tidak perna ada
Namun bersama mu IMM aku merasakan sang khaliq bersamaku
Nama Nya selalu terngiang dalam benakku memberikan kesejukan
RABB... terima kasih atas hidayah yang kau berikan kepadaku
Menghadirkan IMM sebagai perantaraku menjemput hidayahmu
Memberikan pelipur lara yang luar biasa atas ilmu agamamu
Jadikan aku menjadi seorang yang akan selalu bersyukur kepadamu
Polman, 27 maret 2020
Senin, 30 Maret 2020
Sabtu, 28 Maret 2020
Covid-19 (Tak Memandang Kepada siapa ia bermukim, Rindu pun Demikian Bukan?)
Covid-19
(Tak Memandang Kepada siapa ia bermukim, Rindu pun Demikian Bukan?)
Oleh IMMawati Asrini
(Tak Memandang Kepada siapa ia bermukim, Rindu pun Demikian Bukan?)
Oleh IMMawati Asrini
Jauh dari hiruk pikuk perkotaan,
Tentunya tak terlalu gelisah atas diskursus Covid-19 (Virus Corona) yang sedang naik daunnya saat ini untuk jadi topik perbincangan seseantero.
Berbedalah kiranya Atmosfer Perkotaan dengan Pedesaan, apatahlagi di pelosok ataukah bermukim di pedalaman yang jauh dari keramaian. Kekhawatiran masyarakat pedesaan tentulah tak sekhawatir Masyarakat perkotaan saat ini, yang sedang bertarung melawan virus Corona.
Alih-alih, Pandemi Virus Corona atau akrab disebut dengan nama Covid-19 ini, untuk bermukim di tubuh manusia, Tak memandang Usia dini, muda ataukah Tua, sesiapapun akan menjadi sasarannya, Masyarakat yang tinggal diperkotaan ataukah di pedesaan.
Itulah yang sekiranya "Kegelisahan" yang dirasakan oleh masyarakat pedesaan kali ini.
Bagaimana tidak?
Proses penyebaran Pandemi covid 19 ini dari tubuh manusia yang satu dengan yang lainnya tak menghitum jam, menit ataukah detik sekalipun. Bukan hanya itu saja, Tenaga Kesehatan, pun fasilitas dan segala perangkat yang dibutuhkan tak cukup memadai. Karena jauh dari keramaian kota, dan bermukim di sebuah desa yang cukup pedalaman, Tentunya Tim medis ataukah RS umum, puskesmas, jarang dijumpai. Pun sebagian Masyarakat yang tak tahu menahu mengenai virus ini, hanya menganggap hal ini biasa-biasa saja.
Nah, Untuk mengantisipasi proses penyebaran virus ini, tentunya ada beberapa solusi yang digalakkan oleh pemerintah, diantaranya Social distening, dan yang tak kalah membomingnya ialah #Rumahaja, himbauan untuk melakukan aktivitas cukup di rumah saja. Ada yang melaksanakan dan ada pula yang tak mengindahkan nya, karena tuntutan ekonomi yang memaksa untuk senantiasa bekerja diluar rumah dan berhubungan dengan khalayak, apatahlagi masyarakat yang tinggal di desa dengan profesi pekerjaan yang mendominasi untuk kerja di luar rumah.
Masih ingat akan pesan dari pak DR.M. IQBAL SUHAEB, SE., MT salah satu PJ Walikota Makassar , yang mengatakan bahwa ;
"Jangki dulu pulang Kampung, anda tidak tau, anda membawa virus atau tidak , dalam perjalanan pulang anda terpapar virus atau tidak. Lindungi orang tua'ta, dan keluarga ta di kampung halaman".
Rindu memang selalu menghampiri bagi jejiwa perantau yang jauh dari sanak keluarga dan Kampung Halamannya. Dan Pulang adalah Tanggung Jawab yang harus dituntaskan sebagai bentuk manifestasi dari terwujudnya titik temu itu. Namun dengan kondisi dan situasi seperti ini, sekiranya pulang adalah bukan satu-satunya solusi untuk mengentaskan Rindu itu. Banyak cara yang bisa dilakukan dengan di era yang serba canggih nan tekhnologi sekarang.
Demi Keselamatan bersama, Saling bahu membahu penting kiranya untuk dilakukan oleh semua elemen, tak hanya pihak pemerintah saja.Jikalaupun kita tak cukup finansial dan tenaga untuk membantu pemerintah dalam mengentaskan persoalan ini, minimal Kesadaran untuk saling menjaga dan mengurungkan niat untuk berpulang ke kampung Halaman demi terputusnya mata rantai dari pendemi virus, itu sekiranya pun jua penting tuk dilakukan.Terkadang perbuatan kecil yang dilakukan mampu menyelamatkan jutaan jiwa manusia.
Muasal yang berbeda namun Muara tetap sama.
Masing-masing dari kita sedang berusaha dan berjuang di tempat yang berbeda namun menghentikan proses penyebaran pandemi covid - 19 tetap menjadi sasaran utama.
Jangan Panik, Namun tetap Waspada.
Studi kasus; Desa Binuang, Kab. Bone.
Kamis, 19 Maret 2020
"IMMawati ku Amanah ku"
Aku tahu kau IMMawati karena aku tahu kau berIMM
Tapi aku tidak tahu apakah kau betul-betul IMMawati?
Perempuan tangguh milik IMM
Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan tentang IMMawati
Yang aku tahu adalah yang kau pikirkan IMMawati adalah sebuah gelar untuk putri IMM
Aku tidak tahu apa yang kau lakukan untuk IMMawati tapi yang ku tahu adalah kau selalu hadir dalam rumah kita IMM
Aku tahu kau IMMawati tapi yang aku tak tahu apakah kau datang dan pergi dengan memberi manfaat.
Tahukah kau wahai IMMawatiku bahwa IMMawati adalah do'a dibalik sebuah nama dan amanah yang harus dijaga, amanah yang harus disyukuri. Tidak sadarkah kau setiap orang mendo'akanmu
Aku tahu kau yang dipilih untuk amanah itu, kalau bukan kau yang dipilih belum tentu kau ku sebut IMMawati
Tahukah kau, bahwa kau punya amanah yang berat yang harus kau jalani? Bahwa IMMawati sebagai basis gerakan perempuan, IMMawati sebagai penguat nilai-nilai Ke-Islaman, IMMawati sebagai penguat pilar-pilar bangsa.
Sudahkah kita menyadari apakah sudah menjalani amanah dengan baik??sudahkah kita menyadari, apakah keberadaan kita sudah memberikan manfaat untuk persyerikatan??
Sebuah refleksi antara saya dan anda semua
Dari IMMawati untuk IMMawati
Yuk Berfastabiiqul khairats. 😊😊💪💪.
#IMM-FISIP-RESPONSIF
#IMM-MAKASSAR-MADANI
#IMM-FISIP-RESPONSIF
#IMM-MAKASSAR-MADANI
Minggu, 16 Februari 2020
Pikom IMM Fisip Menggelar Sekolah IMMawati IV
Makassar | Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik menggelar kegiatan sekolah Immawati dengan tema "IMMawati dalam Dunia Politik yang Ekspansif dan Berintegritas". Kegiatan ini dilaksanakan di Malino, Jum'at-Ahad (14-16 Februari 2020).
Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja dari Bidang IMMawati yang telah dilaksanakan 4 periode berturut-turut yang yg bertujuan sebagai wadah untuk menjawab berbagai persoalan dan tantangan yang semakin kompleks di era milenial saat ini.
Konsep kegiatan Sekolah IMMawati IV ini memiliki nuansa yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang konsisten di adakan di Pantai, kali ini di adakan di area pegunungan tepatnya Kampung Demokrasi Kopel Indonesia Lingkungan Batulapisi Kelurahan Malino Kec. Tinggi Moncong Kab. Gowa, Prov. Sulawesi Selatan, Indonesia.
Kegiatan ini resmi dibuka oleh Ketua Bidang Hikmah PC IMM Kota Makassar, Muh. Khalifa P H W. Beliau berharap semoga melalui kegiatan Sekolah IMMawati ini akan terlahir bunga-bunga revolusi yang berintegritas, mampu menjadi solusi dalam merespon berbagai persoalan diluar sana.
Dalam kegiatan ini pun Ketua Umum Pikom IMM Fisip Rusliadi memaparkan dalam sambutannya, harapan output dari pelaksanaan Sekolah IMMawati IV ini yakni tak lepas dari tema yang telah di canangkan, membangkitkan semangat IMMawati agar lebih memaksimalkan perannya dan lebih agresif pada perkembangan dunia perpolitikan saat ini serta terbentuknya karakter kepemimpinan yang berintegritas, senantiasa bergerak ekspansif untuk menjadi icon bagi perempuan-perempuan di luar sana dimanapun mereka berada.
Kamis, 02 Januari 2020
Hujan..Ajarkan Kami Bahasamu
Hujan..Ajarkan Kami Bahasamu
Penulis : Nur Fadilah (Ketua Bidang Kader Pikom IMM Fisip 2019-2020)
Rintik hujan berlarian saling berkejaran
Tetes demi tetes tampak bertabrakan
Namun tak ada jerit teriak kesakitan
Dengan sekujur tubuh dibalut kedinginan
Menerima takdir dengan terpaksa jatuh dari langit dan kembali pada asalnya..
Hujan...
Jelaskan pada kami bahasa apa gerangan yang kau gunakan
Tuk menyampaikan rindu pada Tuhanmu
Ajarkan kami .. agar kami pun bisa setia padaNya
Sepertimu yang tak pernah lelah tuk bertasbih
Dibalik tetesmu yang mengalir tak pernah henti
Hujan...
Ajarkan kami bahasamu
Kau seringkali buat kami dilema
Diluar sana .. kau ramai dicelotehkan lantaran kau sering menyisakan genangan hingga kenangan
Ajarkan kami .. agar kami pun mampu mengenang dan mengingat nikmat Tuhan kami yang lalu hingga detik ini yang seringkali kami lalaikan
Kami lemah dalam mengenang dan menafsirkan makna, hati kami gelap
Ajarkan kami bahasamu
Bahasa Cinta yang tak berwujud lewat Kata namun mampu kau buktikan lewat Berkah yang kau bawa lewat rintikmu
Kami ini kufur ..
Syukur hanya mampu kami sampaikan Lewat kata namun nyatanya ibadah pun Masih kami perlakukan sebagai beban, Sedekah pun kami jarang, kami kikir
Ajarkan kami bahasamu
Bahasa tangguh ..
Berkali-kali kau terjatuh namun
Kau tak pernah putus asa dari Rahmat Tuhanmu
Kami ini hamba lemah
Lemah dalam aqidah
Ketika Tuhan menurunkan uji
kami lawan dengan keluhan hingga makian, kami pemarah
Ajarkan kami bahasamu
Ketika kau terkadang memilih menurunkan uji dibalik nikmat
Rintikmu yang deras
Menenggelamkan rumah kecil kami
Ajarkan kami makna kesadaran.. kami ini perusak
Selasa, 24 Desember 2019
Kisah perjuangan dan romantisme sekawan pemuda dalam berjuang mengubah jalan sejarah bangsa
Sekarang aku mau menceritakan padamu satu episode yang begitu membekas. Episode yang makin meneguhkanku bahwa perjuangan itu harus dinyatakan dengan indah, dalam lirik dan nada. Pada suatu malam di bulan November tahun 1991, di tengah-tengah aksi mogok makan kawan kami menutut demokratisasi lembaga pemerintahan mahasiswa di UGM, aku dan beberapa kawan berkumpul di sekretariat organisasi. Di antara mereka terdapat Johnsony Tobing, mahasiswa Filsafat yang sering menjadi komandan lapangan dalam setiap demonstrasi; juga Dadang Juliantara (seorang mahasiswa Geofisika) yang banyak menyusun konsep pergerakan mahasiswa. Di tengah suasana lelah, pada suatu senja yang temaram (ketika batas malam dan siang menaungi kami), John memainkan sebuah nada dan meminta kami yang saat itu berkumpul di situ untuk membuatkan liriknya. Kami pun berkumpul di sekitar John yang memainkan nada lagunya dan Dadang berinisiatif menuliskan idenya di papan tulis. Dia tuliskan syair, kemudian menghapusnya, dan menuliskannya lagi sampai kemudian pada satu jeda, kuusulkan untuk menambahkan kata “Bunda” pada syair lagu itu (ah, betapa saat itu aku sedang merindukan Ibu yang sudah lama tak kutemui). Pada jelang tengah malam, terciptalah lagu baru yang oleh John diberi judul ”Darah Juang”. Pada tengah malam itu juga kami beramai-ramai menyanyikannya, sebuah lagu yang untuk beberapa tahun kemudian menjelma sebagai kredo kami yang lain. Lagu itu kelak sering mengiringi kami dalam perjuangan demokrasi di Indonesia, menurunkan rezim korup dan otoriter, maupun dalam perjuangan-perjuangan rakyat lainnya. “Darah Juang” adalah kredo untuk mengorbankan apa yang kami punya, untuk mimpi-mimpi besar kami sebagai seorang individu maupun sebuah generasi.
...Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah,
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas hak-nya
Tergusur dan lapar
Bunda, relakan Darah Juang kami
Membebaskan rakyat
Mereka dirampas hak-nya
Tergusur dan lapar
Bunda, relakan Darah Juang kami
Padamu kami berjanji
Lagu tersebut dicipta untuk merayakan anak-anak muda dari berbagai pelosok tanah air. Kami tahu mereka mulai terlibat dalam perjuangan demokrasi. Mereka adalah kaum muda yang sedang bergulat di kampus melawan birokrat-birokrat kampus yang merepresi hak demokrasi mahasiswa; kaum muda yang sedang menyebarkan pamflet-pamflet atau mencoretkan grafitti perlawanan di dinding-dinding kota; anak-anak muda yang keluar masuk pabrik, pematang sawah, perkampungan kumuh tengah kota dan tepi laut, perkebunan maupun lereng gunung yang sedang membangun gerakan rakyat; anak-anak muda yang sedang mogok makan atau sedang berada dalam genggaman penyiksa-penyiksa mereka di ruang interogasi. Tak kalah pentingnya juga, lagu tersebut adalah untuk menyemangati diri kami sendiri, yang malam itu kelelahan karena habis berdemonstrasi pada siang harinya.
(Budiman Sudjatmiko)
—Dinukil dari buku Anak-Anak Revolusi Vol.1 karya Budiman Sudjatmiko—
Minggu, 22 Desember 2019
Aksi kemanusian PIKOM IMM FISIP UNISMUH Makassar Kembali Turun Memberdayaakan anak Jalanan
Pimpinan Komisariat Ikatan mahasiswa muhammadiyah fakultas ilmu sosial dan ilmu politik universits muhammadiyah Makassar. Aksi kemanusiaan ini bertujuan untuk memberdayakan anak jalanan di Area binaan kerung kerung lorong santaria, bara baraya, pikom IMM melaui kerjasama dengan KPAJ (Komunitas pecinta anak jalanan).
Kerja sama ini di harapkan dapat mencakup sasaran yang diharapkan untuk mengatasi permasalahan sosial anak jalanan dengan meningkatkan kemampuan dirinya melalui pendidikan, pelatihan keterampilan dan pendidikan moral. Hal ini diupayakan untuk bisa mendorong dan menstimulasi supaya anak jalanan tersebut bisa mendapatkan hak untuk mendapatkan hidup yang lebih layak, perlindungan, dan bisa menampilkan perilaku positif sesuai dengan norma dan etika yang ada di lingkungan masyarakat.
Program pemberdayaan ditujukan untuk meningkatkan kemampuan anak jalanan sehingga mempunyai pengetahuan keislaman, kemuhammadiyaan dan dapat mandiri sehingga anak jalanan tidak beraktivitas di jalan lagi.
Begitu pula dengan harapan ketua umum KPAJ Hiber berharap bahwa pemerintah dapat lebih melirik anak jalan begitu pula dengan KPAJ agar kedepan nya bisa lebih bersinergi dalam melakukan pemberdayaan aksi kemanusiaan.
#IMM-FISIP-RESPONSIF
#IMM-MADANI
#IMM-JAYA
Langganan:
Postingan (Atom)
AI Bukan Musuh: Bijak Memanfaatkan Kecerdasan Buatan tanpa Mengabaikan Etika Digital dan Hak Cipta Oleh : Aghil Adrian Aryananda & Y...
-
Nurhikmah Rahmadani Roni Divisi Advokasi dan Media SKI Jilid IX Sekretaris Bidang Hikmah PKP Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri, dem...
-
NUR ILHAM ( Jendral SKB XI) Pemerintah sering berbicara tentang pembangunan, namun realitasnya? Itu hanya ucapan kosong yang menipu masyar...
-
Pelecehan seksual terhadap perempuan merupakan persoalan serius yang masih terjadi di berbagai lapisan masyarakat, baik di ruang publik maup...




