Kamis, 13 Agustus 2020

Pemimpin adalah sebuah keniscayaan

Pemimpin adalah sebuah keniscayaan


“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata, mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. al-Baqarah/2: 30)

Allah tetapkan manusia sebagai khalifah. Di antara tugas mereka ialah memakmurkan bumi, menegakkan Al-Haq (kebenaran agama Allah) dan keadilan di tengah-tengah manusia. Sebab itu, Allah bekali manusia dengan berbagai ilmu melalui wahyu yang diturunkan kepada para Rasul-Nya. Khilafah ini hanya Allah berikan kepada manusia dan tidak diberikan kepada makhluk-Nya yang lain, kendati kepada malaikat sekalipun. Ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia sehingga para malaikat diperintahkan Allah sujud kepada Adam. Kemuliaan tersebut hanya melekat pada diri manusia selama mereka menjalankan visi hidup yang Allah tetapkan.

Bahwasanya Pemimpin dan kepemimpinan adalah suatu hal yang berbeda. Namun, keberadaannya tidak dapat dipisahkan. Pemimpin pada dasarnya adalah menggambarkan sosok orang atau figure yang dengan berbagai prasyarat (requeirmen) tentang pemahaman konsep, keahlian dan keterampilan serta pengalaman untuk menjalankan peran sebagai pemimpin. Pemimpin dalam menjalankan perannya secara pribadi dituntut untuk memiliki mentalitas dan kematangan emosi yang bagus. Hal tersebut diperlukan karena dalam menjalankan peran sebagai pemimpin akan berhadapan dengan masyarakat banyak (publik)  dengan berbagai macam latar belakang, baik tingkat pendidikan atau ilmu pengetahuan, kepribadian, tingkat emosi yang berbeda-beda. Sehingga seorang pemimpin harus dapat menciptakan dan mempertahankan aktivitas kelompok yang berkaitan dengan tugas yang harus dilaksanakan oleh pemimpin itu sendiri yaitu mengarahkan para pelaksana tugas secara bersama-sama mencapai tujuan organisasi.

Kepemimpinan memainkan peranan yang penting dalam organisasi. Berhasil tidaknya suatu organisasi salah satuya ditentukan oleh sumber daya yang ada di dalam organisasi tersebut. Pada dasarnya kepemimpinan adalah suatu sikap mempengaruhi orang lain untuk mencapai suatu tujuan dengan visi dan misi yang kuat. Efektivitas seorang pemimpin ditentukan oleh kepiawaiannya mempengaruhi dan mengarahkan para anggotanya. Tentunya pihak pemimpin harus mempunyai kemampuan dalam mengelola, mengarahkan, mempengaruhi, memrintah dan memotivasi bawahannya untuk memperoleh tujuan yang diinginkan.

Jika berbicara tentang kepemimpinan pasti dipikiran masyarakat umumnya identik dengan kaum adam atau pria padahal jika kita menelaah perempuan juga mempunyai jiwa kepemimpinan, yang tidak jauh berbeda keahliannya dalam memberi arahan, dalam berorasi maupun beretorika atau bahkan memberi gagasan.

Semua orang berhak dan dapat menjadi pemimpin (leadership), Pada hakikatnya tiap-tiap wanita adalah seorang pemimpin dan melakukan kepemimpinannya dalam lingkungan masing-masing, baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan kerja, dan dalam masyarakat. Wanita tidak semuanya lemah ia ibarat sebuah bangunan yang kokoh dan merupakan fondasi yang berstruktur kuat. Sosok perempuan yang sensitif, intuitif, empati, suka merawat, mampu bekerjasama, dan mengakomodasi dapat menjadikan proses-proses organisasi menjadi efektif (Growe, 1999)". Gaya kepemimpinan perempuan yang cenderung partisipatif memberi prioritas tinggi pada pengembangan sumber daya insani, juga kepedulian pada detail membuat gaya kepemimpinan mereka sangat cocok di era inovasi saat ini. Dan sekaligus menunjukan kepada kita bahwa perempuan dalam kepemimpinanya mampu mencapai prestasi yang lebih berhasil ataupun gemilang dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Ini dapat dilihat dari perannya pada kehidupan bermasyarakat, misalnya disebabkan adanya dukungan kemampuan dalam hal pendidikan, pengalaman berorganisasi dan motivasi dari kaum perempuan itu sendiri maka mereka bisa membuktikan ke dunia bahwa mereka bisa menjadi pemimpin.

Dengan terciptanya kesempatan perempuan memegang peranan sebagai kepemimpinan dapat membawa dampak yang positif yaitu permasalahan kesetaraan gender ditandai dengan tidak adanya perbedaan (diskriminasi) antara perempuan dan laki-laki. Dengan demikian perempuan dan laki-laki memiliki peluang atau akses yang sama dalam kepemimpinan. Hal itu ditandai dengan perempuan yang mampu memberikan suara, berpatisipasi dalam pembangunan negara yang lebih baik. Tentu hal ini merupakan kebijakan tersendiri yang memiliki manfaat persamaan serta adil dari pembangunan. Hal ini harus selalu dibuktikan bahwa wanita dapat semakin maju dalam kemimpinan.

Dalam kepemimpinan terutama dalam pembangunan sekarang ini, perempuan sangat dibutuhkan terutama dalam segi pemikiran dan kreasi untuk pengembangan dalam mewujudkan tujuan. Dengan demikian, kaum wanita mampu mengikuti derap langkah dan lajunya pembangunan nasional seirama dengan kaum pria sebagai mitra sejajarnya tanpa meninggalkan harkat, martabat, dan kodratnya sebagai wanita. Tidak ada yang salah bukan jika perempuan menjadi seorang pemimpin. Maka diharapkan kepada semua perempuan perempuan yang ada di seluruh dunia untuk terus semangat dalam mencapai cita-cita.

"SETIAP KALIAN ADALAH PEMIMPIN DAN BERTANGGUNG JAWAN TERHADAP KEPEMIMPINANNYA"


Minggu, 12 Juli 2020

IMPACT PANDEMI COVID-19 BAGI SEMANGAT PEMUDA

Penulis : Nur Fadilah (Ketua Bidang Kader Pikom IMM Fisip Periode 19/20)

Sebelum membaca ini.. mari letakkan otak kita pada konsep berpikir dewasa ya bung. Kita semua dewasa kan yaa, saya dan kamu iya kamu yang baju merah. Hemm oke kita patahkan pepatah usia tak menjamin kedewasaan, terlepas dari atribut dewasa versi biologis. 

Pepatah diatas sejak awal telah banyak disalah gunakan dan menjadikan maknanya berat sebelah, bagaimana tidak, dari kata ini sering di tafsirkan bahwa usia kepala dua hingga kepala keluarga tidak menjamin matangnya keribadian seseorang. Secara tidak langsung telah menindas sebagian ummat tak bersalah. Bagi saya semua orang dewasa dengan versinya masing-masing. Mengingat  setiap orang punya jatah salah dan benarnya masing-masing juga. 

Dalam buku Tatang Sutarma Definisi dewasa itu fleksibel, mengingat dewasa selalu di identikkan dengan kepribadian yang matang. Seorang anak kecil bisa mendadak dewasa ketika ia melihat orang tua cek-cok didepannya dan ia menilai itu adalah hal yang tidak benar dan mengambil pembelajaran, seorang direktur pimpinan perusahaan yang terlihat berkharisma dan berwibawa dihadapan karyawannya, pulang kerumah juga bisa nangis kalau di omeli emak.  Sepertinya rumit ngebahasnya padahal kesimpulannya bacaan ini cocok untuk semua kalangan. Itu saja

Oke lanjut ke topik utama…

4 kualitas anak muda yang harus dimiliki dalam menghadapi tantangan zaman versi Sherly Annavita:
Be a good one, be a better one, be the best one and be an axecellent one.”

Impact Corona Bagi Pemuda?

Jangan menyimpulkan isi dulu sebelum menyelam, agar tak kecewa gara-gara kebanyakan ngarep.

Itu hanya magnet untuk jari jempol para reader yang budiman biar jiwa penasarannya meronta untuk membaca tulisan ini.. yaa meskipun cuma sekedar baca judul wekaweka. tapi harapannya lebih tepatnya agar kita tak terbiasa menjudge sesuatu dari sisi sekilas yang nampaknya saja. Judul tulisan ini sederhana “Masa Muda Masanya Berkarya”.

Berbicara soal masa muda tentu menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan. Sebab ia unik dan penuh tantangan. Disitulah kita mengalami banyak peralihan situasi hidup yang membuat kita harus banyak belajar berdamai dengan kondisi yang ada. Memaksa diri untuk memulai dan mengubah banyak hal, meninggalkan pikiran dan sikap anak kemarin sore sebab ukurannya bukan lagi persoalan siapa yang duluan makan garam tapi melainkan siapa yang paling banyak makan micin. ehh 

Fenomena bertambahnya umur seseorang saat ini seolah sudah menjadi penantian bagi sebagian orang bebab selalu sepaket dengan euforia sekilas lewat ucapan dan kue bolu, yang tanpa sadar disitu juga sepaket dengan kosekuensi beban hidup yang semakin bertambah. Ibarat minum kopi di warkop, yang kita beli tentu bukan hanya kopinya saja tetapi harus suasananya juga. Kata bang Arham (Penulis Kendari).

Sadar atau tidak pemuda hari ini terlalu banyak terkurung di ekpektasi yang pada akhirnya banyak nuntut ketika realitas yang terjadi tak sesuai harapan, ingin hak dipenuhi namun melupakan kewajiban. Inginkan revolusi namun lebih banyak berdiam diri (diam bae), padahal salah satu penyebab banyaknya kejahatan adalah diamnya orang-orang polos.

Anggapan kita  banyak main dan kongkow-kongkow tak berfaedah sama teman sudah bisa dikatakan hidup, tapi nyatanya hidup tak sesederhana itu. Realitas menepuk bahu kita untuk mulai merancang besok mau jadi apa? kemarin punya prinsip hidup harus dinikmati telah menjelma menjadi santuy kebablasan, hari ini harus mulai mikir besok mau makan apa? Kemarin hanya mikirin diri sendiri kondisi menyadarkan kita untuk lebih peduli dengan orang lain.

Masa muda masanya berkarya.

Secara sadar banyak dari kita yang berpotensi menjadi orang besar namun kemalasan membuat kita tak menyadari potensi itu. Banyak pula yang menyadari namun tak mau mengasah. Ada pula yang mulai menekuni namun tak memiliki titik fokus. Apapun potensi yang kita miliki pada  dasarnya semua berpeluang untuk membawa kita pada kesuksesan. Bruce Lee pernah berkata “Aku lebih takut kepada orang yang melatih satu jenis tendangan sebanyak 1000 kali, daripada seseorang yang melatih 1000 jenis tendangan hanya satu kali".

Berbicara persoalan sukses, setiap orang punya takarannya masing-masing. Tapi alangkah baiknya kita mengambil porsi paling besar atau mengambil tolak ukur yang paling tinggi, setidaknya ketika jatuh, kita jatuh diantara bintang-bintang kata bapak presiden pertama Ir Soekarno. Sebab ketika kita ambil tolak ukur terendah kalau gagal bagaimana? Jatuhnya kan sakit langsung kerseret di tanah. 

Tanpa sadar prinsip menyederhanakan mimpi adalah sebuah ketakutan yang menjelma memanjakan kita. Teruslah bermimpi tanpa membatasi, asal jangan juga mimpi lebih tinggi dari usaha nanti malah terjerumus dosa karena kebanyakan berangan-angan. Satu hal yang pasti, yang kita cari bukan hanya persoalan banyak dan bidang apa yang kita tekuni, melainkan berkah dan kebermanfaatannya, karena hidup memang begitu, selalu menuntut keseimbangan.

Mari mulai memikirkan.. Karya apa yang hendak kita ukir di masa muda. Peran apa yang akan kita ambil untuk diwariskan ke generasi selanjutnya, sebanyak apa pengalaman yang ingin kita ukir untuk diceritakan dihari tua. Jangan sampai timbul penyesalan di kemudian hari karena menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

Kini, teknologi sudah sampai di berbagai pelosok negeri bahkan daerah yang terpencil sekalipun. Tak ada lagi alasan untuk tidak produktif. Jika gajah mati meninggalkan gading maka manusia mati meninggalkan karya, ya tentunya karya yang bermanfaat agar bisa menjadi amal jariyah. “Membaca, menulis dan berkarya.”

Pertanyaannya bagaimana dengan kita, persiapan hari ini sudah sejauh mana menghadapi era generasi Alfa? Coba mulai berdiskusi  dengan diri kita masing-masing. Untuk penulis yang malang pun demikian, yang belum juga sarjana di penghujung musim hujan yang tak kunjung mereda ini. Hem tak apalah dahulukan yang tua (pembelaan).

Akhir kata, menulis ini bukan berarti saya sejengkal lebih depan dari teman-teman, ini hanyalah bagian dari refleksi pemikiran beberapa influencer kaum milenial dan sedikit intisari ilmu dari buku yang nyangkut di dengkulku.

Kalau ada yg keliru dan garing dimaafkan  #sekedarcorettcoret :D

Tak banyak yang bisa saya bagikan, ini hanyalah do’a dan to’a untuk membangunkan penulis.

Selamat menikmati new normal. Tetap patuhi rambu-rambu protokol Covid-19 :)

Rabu, 24 Juni 2020

Corak Pemikiran Feminis Islam vs Corak Pemikiran Feminis Barat

Oleh: IMMawati Jumarni (Dept. Bidang Organisasi, Alumni SKI IV PIKOM IMM Fisip)



Konstruksi gender dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh agama dan ideologi yang dianutnya, maka wacana teologi gender mulai  bergulir. Anggapan bahwa pemahaman agama bias gender membuat arah baru gerakan feminisme, dimana para feminis mulai menawarkan pemaknaan baru terhadap agama sekaligus membongkar dogma-dogma agama yang telah mapan dan dianggap membelenggu kaum perempuan. 

Kedudukan kaum perempuan di Barat sangat terkungkung, baik dalam kehidupan rumah tangga sebagai istri maupun yang berkenaan dengan hak-hak kemasyarakatan. Posisi kaum perempuan pada saat itu tak begitu jauh bedanya dengan kedudukan perbudakan yang diperlakukan semena-mena, pada waktu itulah timbul di benua Eropa gerakan perempuan yang dinamakan gerakan emansipasi. Ketika wacana teologis tentang perempuan dibuka dan menjadi diskursus yang cukup ramai, maka pembahasan dogma-dogma agama mulai muncul dan berkembang. 

Menurut pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Ali Khumaini, kesalahan paradigma Barat mengenai posisi dan kedudukan perempuan dalam masyarakat karena melihat manusia dalam dua kategori ekstrim, perempuan dan laki-laki. Dunia Barat melihat hubungan laki-laki dan perempuan secara diametral yang saling bertentangan, bukan sebuah posisi yang saling melengkapi dan menyempurnakan. Dalam makalah ini kami mencoba membandingkan dan mengaitkan bagaimana corak pemikiran yang dibangun oleh kaum feminis Barat dan feminis Muslim.

Feminisme adalah serangkaian gerakan sosial, gerakan politik, dan ideologi yang memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mendefinisikan, membangun, dan mencapai kesetaraan gender di lingkup politik, ekonomi, pribadi, dan sosial. Secara istilah/terminologi Feminisme itu adalah adalah sebuah gerakan  perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. 

Secara etimologis feminisme berasal dari bahasa Latin, yaitu femina yang berarti perempuan. Feminisme itu sendiri ada pada tahun 1890 yang digunakan pada saat itu untuk mengkampayekan hak-hak perempuan di setiap lini kehidupan sosial, politik maupun dikehidupan pribadi.

Relevansi Pemikiran Feminis Islam dan Pemikiran Feminis Barat, yaitu didalam Islam tidak ada perbedaan hak dan tidak ada penindasan terhadap perempuan oleh kaum laki-laki, akan tetapi perlu diketahui bahwa antara laki-laki dan perempuan ada perbedaan baik secara biologis maupun naluri diakui atau tidak, mau ataupun tidak menafsirkan syariat Islam. Feminisme juga dijadikan sebagai alat analisis yang dapat menghadirkan kesadaran baik laki-laki ataupun perempuan sendiri. 

Berbeda dengan aliran feminisme yang ada di Barat, yang dipengaruhi ideologi yang berkembang sehingga melahirkan aliran fanatik terhadap suatu ideologi sebagaimana yang kita lihat dalam pembagian aliran feminisme barat yang telah diuraikan diatas, karena memang yang menjadi dasar ideologi agama Islam adalah al-Qur’an dan Hadist sehingga tidak ada aliran-aliran feminisme sebagaimana di Barat. Akan tetapi memang di beberapa Negara Islam ada sebuah gerakan misalnya di Mesir, Turki, Pakistan yang bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, misalnya hak mendapatkan pendidikan, kiprahnya dalam bidang sosial, bidang agama ini terjadi pada abad ke-19. 

Agama-agama di dunia memiliki peran dan prinsip-prinsip yang hampir sama, tentang keharusan kaum perempuan yang harus mengikuti kaum laki-laki dimana konsep patriarki itu tumbuh. Banyak klaim dan dalil-dalil yang diduga berasal dari Tuhan, maskulin yang menetapkan nilai klasifikasi serta kekuasaan laki-laki didalam rumah tangga maupun lingkungan sosial masyarakat. Kaum laki-laki lebih kuat atau berkuasa daripada kaum perempuan, bahkan perempuan diciptakan dari bagian tubuh kaum laki-laki. Perempuan bukanlah makhluk lemah kualitasnya dibandingkan kaum laki-laki, sebagaimana diasumsikan banyak orang. 

Bahkan sejarah telah berbicara kepada kita bahwa perempuan telah memberikan sumbangsih intelektual pertama dalam peradaban dunia, perempuan lebih dahulu berpikir dengan akalnya dibandingkan kaum laki-laki. Dialah (Hawa) kaum perempuan yang menjadi pelopor pembangunan ilmu pengetahuan dan peradaban dunia dalam sejarah kemanusiaan. 

Menurut Nawal El-Saadawi kaum perempuan tidak akan terbebaskan dari sistem patriarki kecuali dari diri mereka sendiri yang mulai merubahnya dan berusaha untuk mengangkat harkat dan martabatnya dengan mengusung gagasan perubahan dan modernisasi. Perempuan haruslah kuat dimulai dari pribadinya masing-masing, menurut beliau perempuan harus bisa terbebaskan dan berani menyikap tabir pikiran mereka, yaitu kesadaran palsu, kesan-kesan minor, dan sikap lemah yang selama ini melekat pada kaum perempuan. Sehingga nantinya akan muncul sebuah kesadaran baru pada diri mereka bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan berarti antara dirinya dan kaum lelaki. Setelah itu mereka akan menjadi suatu kekuatan politik yang memiliki otoritas dalam mengambil keputusan yang besar, semua ini akan terwujud melalui organisasi keperempuananyang sadar akan hak-hak dan tujuan.

Kamis, 14 Mei 2020

Menjarah Rumah yang sedang Terbakar: Parlemen kian Ambyar


Oleh:IMMawan Busri – Dept. Bidang RPK Pikom IMM FISIP Unismuh


“Musuh yang terbelenggu di dalam negeri sendiri siap untuk ditaklukkan” – Sun Tzu
Adagium di atas adalah asumsi dasar bagi Siasat ke-5 Menjarah Rumah yang sedang Terbakar dalam Buku 36 Strategi Perang Cina Kuno yang ditulis Sun Tzu. Siasat ini mengambil keuntungan ketika musuh dalam keadaan sulit. Dengan memanfaatkan sepenuhnya  kemalangan lawan, dimana pada akhirnya lawan akan kehilangan sumber daya untuk bertahan hingga akan mudah ditaklukkan.

Jika boleh berterus terang dan tanpa naif untuk diakui, juga dengan menafikan untuk menghalus-haluskan kata serta bersembunyi dibalik keadaban. Karena dunia yang kita hadapi sekarang adalah dunia yang sangat tidak beradab. Saya mengatakan ini untuk anggota parlemen kita. Mereka yang terpilih, sebagian besar bukan karena kemampuan mereka berbuat yang terbaik untuk rakyat yang diwakilinya. Melainkan, mereka terpilih karena mampu membeli dan mampu bertransaksi. 

“Ambyar” – istilah Jawa untuk hal yang tidak terkonsentrasi lagi, remuk atau hancur. Begitulah kiranya gambaran masyarakat saat ini akibat perilaku Parlemen dengan segala motif dan siasatnya. Bagaimana tidak, mungkin masih segar dalam ingatan gerakan #ReformasiDikorupsi tahun lalu. Ketika itu semua elemen gerakan dari mahasiswa, buruh, hingga ke rakyat miskin kota, berjalan bersama memprotes beberapa undang-undang yang hendak diloloskan secara cepat oleh DPR periode lalu. Selama lima tahun DPR periode 2014-2019 mangkrak. Mereka tercatat sebagai DPR paling malas. Paling sedikit mengeluarkan produk undang-undang. Ketika masa jabatannya hanya tinggal beberapa minggu saja, meraka mamaksakan untuk meloloskan banyak undang-undang kontroversial. Hanya protes besar-besaran yang mampu menghentikan mereka. 

Revisi UU KPK yang dinilai mengebiri keberadaan KPK adalah salah satu agenda besar yang menggerakkan protes kala itu. UU itu disahkan DPR menjadi UU No. 19/2019. Menghadapi protes yang hebat, Presiden Jokowi berjanji menerbitkan Perppu untuk membatalkannya. Janji yang tidak pernah menjadi kenyataan. Sudah lama kita tidak menyaksikan para politisi bersatu padu seperti ketika membela undang-undang ini. Kesatuan suara dan kebulatan tekad seperti ini hanya terjadi pada rezim Soeharto. Tentu saja mereka harus satu suara karena kalau tidak mereka akan ditendang dan ditindas oleh Soeharto.

Tidak terlalu sulit untuk memahami tingkah laku ini. Kepentingan menyatukan mereka. KPK yang mandiri dan tidak bisa dikontrol akan menjadi ancaman untuk mereka. Sebagian besar penghuni penjara khusus koruptor adalah para politisi dan konco-konco pengusahanya. Pengebirian terasa sampai sekarang. Tidak ada lagi operasi-operasi tangkap tangan. Tidak ada lagi pengintaian. Para pegawai KPK sekarang menjadi pegawai negara- dengan segala jatah dan kepatuhannya kepada pimpinan. Lembaga ini tewas mengenaskan. Seperti lembaga-lembaga lain yang dulunya pernah menjadi lembaga independen. 

Itikad buruk parlemen seperti ketika meloloskan UU KPK – yang lolos hanya beberapa minggu sebelum masa jabatan DPR berakhir, tampaknya akan diulangi lagi. Sukses DPR membahas satu undang-undang tampaknya tergantung dari kesempatan mereka untuk menyembunyikannya dari publik. Bahkan pada bulan April kemarin masih disempatkannya parlemen untuk membahas tindak lanjut RUU KUHP dan RUU Pemasyarakatan. Undang-undang yang ditentang lewat protes besar #ReformasiDikorupsi.

Inilah yang hendak saya narasikan, betapa parlemen agaknya memanfaatkan sepenuhnya  kemalangan yang menimpa masyarakat untuk meraup keuntungan ketika masyarakat dalam keadaan sulit. Kita tahu, sekarang ini semua orang terkurung oleh karantina virus Covid-19. Semua kantor swasta dan pemerintah bekerja dari rumah. Orang tidak keluar rumah. Jalanan sepi. Tidak untuk DPR. Tiba-tiba mereka menjadi rajin dan bersemangat. Mereka seakan menjadi pelopor kerja keras. Berani mati dan tetap bekerja sekalipun berisiko tertular virus Corona. Mereka pun sudah membuat persiapan mengamankan dirinya dengan menciptakan keistimewaan untuk dirinya dan keluarganya.

Tapi benarkah mereka tulus untuk bekerja ditengah-tengah pandemi virus Corona ini. Teringat saya dengan kutipan seorang sosiolog, yang mengatakan "sikap adalah fungsi dari kepentingan”. Lalu apa kepentingan DPR bersidang ditengah krisis pandemik ini? Ternyata tidak banyak berubah. Saat ini saya membaca bahwa mereka (DPR dan juga pemerintah) kian memanfaatkan sepenuhnya  kemalangan yang menimpa masyarakat dengan Pemerintah mengeluarkan Perpres No. 64 Tahun 2020 tentang kenaikan iuran BPJS dan DPR yang merevisi UU No. 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba) menjadi Undang - Undang baru.

Disahkannya UU Minerba baru itu menjadi gelaran karpet merah bagi elit pemerintah, yang kita tahu di Indonesia beberapa perusahaan tambang memiliki afiliasi yang kuat dengan para pemangku kepentingan dan yang tak kalah penting dampak ekologis akibat aktivitas tambang semakin menghantui masyarakat. Ditambah lagi, akses warga kian hilang dan terpinggirkan karena dalam undang-undang itu menegaskan penetapan kegiatan pertambangan yang disepakati wilayah pertambangan sebagai bagian dari wilayah hukum pertambangan, tak dapat dipungkiri penetapannya akan cenderung tidak mengenal batas (Poin 2 perubahan UU Minerba). Kenaikan BPJS sendiri – yang termasuk daftar protes dalam agenda besar #ReformasiDikorupsi – semakin memperkeruh kondisi masyarakat khususnya bidang kesehatan yang tengah menghadapi wabah Covid-19. 

Sekali lagi, sikap adalah fungsi kepentingan. Ditengah-tengah ketakutan, kebingungan, kegelisahan, dan ketidakpastian yang melanda rakyat Indonesia akibat adanya wabah Covid - 19 ini, para anggota DPR tetap bersikeras menjalankan agenda mereka sendiri. Tidak sedikit pun mereka peduli akan bagaimana membuat kebijakan untuk meringankan beban rakyat. Mereka sibuk menyelamatkan kaumnya - kaum elit politik negeri ini yang sudah dibekali dengan segala hak istimewa. 

Dengan memanfaatkan ketidakpedulian dan kelengahan masyarakat – boleh dibilang yang tidak melihat manfaat dari perwakilan mereka – akhirnya anggota-anggota parlemen ini bisa duduk di kursinya yang empuk. Inilah problem demokrasi elektoral kita. Memperbaikinya butuh waktu panjang dan kerja keras. Namun, sekalipun banyak yang berkeinginan untuk memperbaiki sistem ini, mereka dihancurkan oleh politik partisan. Oleh perdebatan yang direkayasa seakan-akan ada dua kubu berlawanan. Namun pada hakikatnya kubu-kubu itu sejenis dan sepenaggungan. Bahkan ketika dua kubu ini bersatupun, gontok gontokan itu masih terpelihara dengan rapi. 

Sebagai konklusi ambyar – dari saya selaku bagian dari masyarakat yang remuk atau bahkan hancur hatinya – oleh sikap parlemen dan pemerintah. “Memalukan” adalah kata yang terlalu lembut untuk sikap seperti ini. Mungkin ungkapan terbaik untuk menggambarkannya adalah “Menjarah Rumah yang sedang Terbakar”. Saya jadi teringat pula ungkapan Menteri Pertahahan Prabowo Subianto saat kontestasi Pilpres 2014 lalu, "Rampoklah rumah itu ketika ia sedang terbakar". Pepatah itu adalah sebuah realisme politik yang sangat sinis. Dimana realitas produk hukum kian memperlihatkan wajah negara dalam logika korporatokrasi. Sialnya, parlemen saat ini justru sedang mempraktekkanya secara murni dan konsekuen. 
Sekian. Billahi fii sabililhaq, Fastabiqulkhaerat.
Wassalamu alaikum Wr. Wb.

Senin, 20 April 2020

Pikom IMM Fisip Unismuh Makassar Bagi Masker dan Hand Sanitizer Gratis


Makassar-- PIKOM IMM FISIP Universitas Muhammadiyah Makassar menggelar IMM Social Care, dengan membagikan masker dan hand sanitizer gratis. Dipusatkan di Perbatasan Makassar-Gowa, Selasa (21/04/20).

Hal tersebut dilakukan guna memutus mata rantai penyebaran virus Corona, sesuai anjuran pemerintah untuk menjaga kebersihan dan memakai masker apabila ada kepentingan mendesak di luar rumah.

Rusliadi, Ketua Umum PIKOM IMM FISIP, mengatakan ratusan masker dan hand sanitizer dibagikan kepada masyarakat yang ada di sekitar Perbatasan Makassar-Gowa.

"Semoga dengan masker dan hand sanitizer yang kami bagikan ini bisa menekan angka positif Covid-19 di Makassar, serta kami berharap ke depannya seluruh organ kemahasiswaan dan tentunya kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan rakyatnya di tengah pandemi ini," ujarnya.

Rusliadi menambahkan, bahwa masker dan hand sanitizer tersebut merupakan alokasi dana bakti sosial serta donasi dari para donatur.

Ia juga menjelaskan, ke depannya akan diadakan aksi kemanusiaan lagi dengan berbagi sembako kepada masyarakat ditengah pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Makassar. 

"Saat PSBB di berlalukan nanti, langkah masyarakat pasti terbatas untuk mencari nafkah. Maka dari itu, kami sangat berharap pemerintah daerah bahkan pemerintah pusat mampu mengkaji dan memberikan bantuan sembako secara menyeluruh agar masyarakat tidak mati kelaparan karena PSBB," tutupnya.

Pemerintah Kota Makassar menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai 24 April hingga 7 Mei mendatang.

Citizen Reporter: Natasyah Dewanty

Selasa, 14 April 2020

Harap di Ujung Aksara


HARAP DI UJUNG AKSARA
Oleh: IMMawati Asrini

Dirundung Nestapa atas rasa yang tak pandai bersyukur,
membelenggu di tengah kegamangan yang karuan tak tau arah.

Mencabar insan yang perusak,
Menjejak dan bertandang di bumi,
Ia lupa cara berserah.

Gagap dalam merapal.
Gapah dalam serapah.

Sungguh Aniaya...
Asah, Asih, Asuh
Hirap tak terawat.

Bumi Berduka,
Ibu Pertiwi Bersedih,
Ia butuh didekap,
Oleh Hati yang Asih,
Jiwa yang Asuh,

Tak butuh umpatan,
Dari insan yang perusak.
Tak butuh hardik,
Dari jiwa pendengki.

Terkutuk!
Untuk insan yang tak lagi Humanis,
Mendamba Kerusakan Krisis Kemanusiaan.

Harapku,
Harapmu,
Harap kita semua,
Bumi lekas membaik,
Walau tak bertuan, ia Bertuhan.
Maka,
Selaksa doa penjuru Dunia,
Yang diperuntukan untuknya,
Lekas Diijabah segera ....

Sabtu, 11 April 2020



SERUAN: GEN Z dan Milenial #BersamaLawanCorona
IMMawan Muh. Nur Fikran (Departemen Bidang Hikmah Pikom IMM Fisip Unismuh Makassar)

Politisi dan Aktivitas Media Sosial

Anak Muda Harapan di Tengah Wabah Corona
Ini adalah tanggapan atas pernyataan sikap PBB yang begitu histerisnya disampaikan oleh kepala PBB sendiri. Teknokrat yang histeris ini mengklaim sedang menangani pandemi CORONA dengan meyakinkan kita bahwa untuk menekan pandemi kita memerlukan sebuah “perang ekonomi” di berbagai bidang dari negara-negara besar dunia. Ia menyerukan perang antar negara dalam bentuk ekonomi dimana akan lebih banyak persaingan yang melibatkan pekerja untuk melayani kepentingan pasar menaikkan penjualan yang telah goyang akibat virus SARS-Cov-2 atau Virus Corona yang menakutkan.
Saya hanya berkata: brengsek!


Video ketua PBB ini bisa dilihat: https://www.youtube.com/watch?v=40UyJdTtBJM

Oleh karenanya saya menulis mengenai hal ini untuk menindaklanjuti sikap PBB itu. Dalam beberapa waktu, saya telah mengamati bahwa virus corona tidak menyurutkan keinginan untuk berkumpul dari anak-anak muda yang ingin membantu masyarakat: mulai dari pengumuman sumbangan dan aksi sosialisasi mengenai corona di tempat publik pun berjalan, dimana aksi anak-anak muda ini menuai represi dari pihak kepolisan. Bukan hanya itu, keinginan berkumpul juga ditunjukkan dari banyak tempat makan dan nongkrong yang belum sepi dari kedatangan anak muda di dalamnya. Ini adalah tampilan yang mengejutkan di tengah kepanikan banyak oraang tua yang mengalami kepanikan menyerbu indomaret dan pasar untuk menyetok barang kebutuhan dasar dan obat-obatan. Ini adalah bibit pembangkangan sipil, tindakan tak bertanggung jawab, dan tolakan bekerja sama atas himbauan pemerintah yang menggencerkan kampanye kerja di rumah dan tetap stay di rumah. Selain itu saya sendiri pun dan beberapa kawan di kampung dan sekitarnya masih sering berkumpul untuk ngobrol juga menghilangkan jenuh di rumah. Namun, dalam strategi penaklukan waktu, kampus masih diaktifkan melalui pertemuan online untuk merepotkan (baca: mengisi) waktu anak-anak muda yang tak bisa datang ke kampus.

Anak muda mengabaikan rasa takut yang dipromosikan oleh pemerintah dan menikmati diri mereka sendiri sementara orang tua mereka berdiri ngeri di depan penyebaran virus corona. Mudah untuk mengutuk perlakuan anak muda layaknya orang tua mereka yang memarahi dan protektif melarang mereka pergi keluar. Namun saya tak akan ikut andil dalam kutuk-mengutuk dan rasa takut yang histeris ini, karena: Jika anak muda masih bisa memutuskan untuk keluar dari rumahnya di tengah wabah, mengapa mereka tidak bisa memulai pertarungan demi masa depannya di seluruh Indonesia?
Anak-anak muda memiliki pengaruh dimana ia lebih tak rentan pada penyakit virus corona ketimbang orang yang sudah berumur tua. Mereka juga adalah angkatan baru yang akan dijual menjadi komoditi segar di pasaran ketika Indonesia mengalami regenerasi berlipat ganda dalam bonus demografi. Anak muda memiliki keberanian, semangat dan hasrat untuk mempertarungkan masa depannya menentang penguncian serta menyerukan pengurangan waktu kerja dengan kenaikan upah termasuk didalamnya. Anak muda dapat menunjukkan dalam jumlah besar kepada masyarakat bahwa mereka menginginkan kepastian dari pemerintah berupa jaminan untuk kebutuhan dasar seluruh masyarakat di tengah pandemi. Sebuah usaha yang akan membuat politisi dan birokrat tua kita, dimana mereka lebih rentan terhadap penyakit, berfikir ulang mengenai kebijakan lockdown.

Bukan Nekat, Tapi #BersamaLawanCorona
Apakah anak muda kebal terhadap penyakit? Tentu saja tidak, namun kerentanan atas penyakit umumnya terjadi di usia yang lebih tua. Bukan berarti seruan ini mengajak kawan-kawan muda untuk tak memperitungkan resiko dan antisipasi penyakit: namun kita bisa melihat kekuatan sekaligus bukti bahwa anak muda penting di saat-saat seperti ini dengan menengok jumlah relawan muda yang ada di sistem medis. Jika warga negara yang lebih tua menginginkan kerja sama dengan warga yang lebih muda, para politisi tua yang duduk berkuasa di bangku jabatannya harus bersedia secara adil memenuhi kebutuhan ekonomi kita semua dengan memberlakukan:
1. Menurunkan harga sewa rumah: dengan menanggung beberapa persen harga kost-kostan atau kontrakan.
Masyarakat membutuhkan tempat berlindung. Di tengah wabah corona yang menyebar ini orang-orang tak berumah dan perantau di suatu kota akan sangat rentan terkena virus karena tak memiliki atau berpindah-pindah rumah.
2. Tunda penagihan hutang terkait lembaga peminjaman uang.
Segalanya membutuhkan uang, termasuk kebutuhan hidup dan item kesehatan. Seruan penundaan tagihan ini adalah cara untuk mempertahankan akses kebutuhan hidup sementara masyarakat.
3. Semua proyek penggusuran harus dihentikan apapun status tanahnya.
Masyarakat membutuhkan ruang untuk memudahkan social distancing, sebuah ruang dimana kita tak harus hidup dengan jangkauan gerak yang semakin padat karena digusur. Ini syarat yang harus dipenuhi untuk mengurangi kepadatan tempat tinggal di tengah wabah corona.
4. Data dan Keluarkan Narapidana dari Penjara.
Dalam artian ini, orang yang dianggap bersalah oleh hukum harus tetap tinggal di rumah secara sementara karena kepadatan dalam penjara akan mengancam kesehatan mereka.
Darimana uang untuk semua tanggungan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat?
Insentif sebesar 405,1 Trilliun Rupiah yang pemerintah gelontorkan dalam rangka merespon dan menanggulangi atau setidaknya meminimalisir dampak Covid-19 terhadap segenap masyarakat Indonesia dalam segala aspek baik itu sosio-ekonomi dan sosio-politik  di tengah wabah pandemi Covid-19 ini benar-benar harus teralokasikan dengan sebenar-benarnya dan sampai kepada segenap masyarakat yang sangat membutuhkan bantuan berupa kebutuhan dasar dan pokoknya sehari-hari jika memang pemerintah benar-benar serius dalam menghadapi dan menanggulangi pandemi Covid-19 ini dan juga kepada segenap Oligarki dan Para Kapitalis yang memiliki watak dan wajah yang bermacam-macam motif dan bentuk nya saya sebagai generasi millenial menyerukan kepada anda para oligarki dan para kapitalis yang terkaya dan tidak terhormat sekalian agar sementara ini saja menghentikan semua pemaksaan kehendak logika kapitalisme anda yang berlandaskan pada dorongan turbulensi produksi nan surplulisasi komoditasnya dan eksplorasi serta eksploitasi terhadap sumber daya alam dan manusia utamanya pekerja dengan mengenyampingkan semua logika kapitalisme anda yang hanya mengutamakan kepentingan dan keuntungan pribadi semata berupa akumulasi kapital (modal) tanpa memikirkan nasib, hak dan keberlangsungan kehidupan bumi dan manusia untuk sementara waktu ini serta turun tangan untuk membantu masyarakat meringankan beban dan penderitaan yang dirasakan saat ini akibat dari pandemi Covid-19 dengan menyumbangkan sebagian harta dan kekayaan yang telah anda kumpulkan selama ini dengan menjalankan proses produksi dan interaksi bisnis pasar yang berasaskan pada logika kapitalisme anda karena itu bisa saja menjadi sebuah titik balik opini dan keniscayaan bahwa anda masihlah benar-benar seseorang dan kumpulan manusia yang masih memiliki jiwa sosial dan kepedulian terhadap kemanusiaan yang mungkin saja saya akan menyebutnya sebuah harapan serta keniscayaan dibalik ketidakpastian dan ketidakniscayaan itu sendiri.

Dan juga mengingat TNI-POLRI bersama kami (segenap masyarakat Indonesia)  di slogan iklannya selama ini, maka kami akan membantu mereka membuktikan hal itu kepada masyarakat dengan:
5.  Demobilisasi Militer
Usaha yang akan mencangkup pemotongan anggaran militer untuk menambah anggaran lain di bidang kesehatan serta kebutuhan dasar masyarakat yang akan segera ditanggung pemerintah. Karena kami lebih membutuhkan 5 hal ini ketimbang persenjataan untuk berperang.

Generasi milenial dan Gen Z bukanlah mereka yang tak memiliki rencana untuk masa depan mereka seperti yang disuarakan beberapa media dengan perubahan sistem kerja menjadi lebih fleksibel dan tak pasti oleh industri/perusahaan. Ini harus dipertimbangkan secara serius, kami menyerukan aksi jalanan dalam jumlah yang cukup besar untuk memaksakan tuntutan di atas kepada mereka para boomer stagnan yang bandel karena merasa ini masih era mereka.
Sementara Dunia
Saya  juga melakukan spekulasi atas situasi yang terjadi akibat corona dan menemukan prediksi ini untuk perekenomian dunia, komentar dan diskusi disarankan dalam kolom dibawah untuk menambahkan beberapa poin yang mungkin juga akan terdampak pada perekonomian dunia akibat shutdown yang dilakukan corona, setidaknya ada 3 implikasi virus yang perlu diselidiki disini:
1. China akan secara jelas melampaui AS sebagai raksasa ekonomi dunia, ini tidak akan mengejutkan apabila kita melihat kata per kata yang diucapkan oleh kepala PBB diatas mengenai perang ekonomi yang harus disambut menurut mereka.
2. Dampak ekonomi yang terjadi akibat kemunculan wabah corona ini tidak dapat disebut secara simpel sebagai depresi ataupun resesi. Karena keduanya memiliki logika yang berbeda dan cukup dapat diperkiraan oleh ekonom, namun kami tak memiliki istilah yang tepat untuk menyebut gangguan administratif yang melanda negara karena melakukan usaha pengendalian pada pandemi corona ini. Terlebih lagi kita tidak mengetahui dampak dari lockdown sebagai metode pengendalian dengan mengunci suatu daerah tertentu dimana akumulasi kapital tak terkendali atas banyak produks diakibatkan oleh kepanikan orang-orang yang ingin menyetok kebutuhan hidupnya, namun menganggur karena pabrik atau kantor lumpuh tak beroperasi sebagai lini produksi.
3. Jika kebijakan fiskal sudah hampir mati sebelum terjadinya pandemi corona ini, maka kita tengok Amerika Serikat sudah menggelontorkan begitu banyak uang sampai-sampai mereka mengalami defisit satu triliun US dollar, dengan tingkat suku bunga mendekati nol – kemungkinan alat atau fitur keynesian ini tidak dapat digunakan sebagai alat pemulihan krisis yang terjadi akibat penguncian administratif yang mewabah bersama datangnya corona. Namun bukan berarti AS tidak akan menemukan jalan keluar, dengan catatan jalan keluar yang harus mereka temukan haruslah unik dalam situasi seperti ini.
Jika kebijakan lockdown ini gencar diterapkan negara dalam hal ini pemerintah seiring dengan naiknya korban karena penyebaran virus, maka dalam jangka waktu lama, karena pekerjaan libur juga karenanya, pada titik tertentu orang-orang harus memilih untuk membayar tagihan sewa rumah atau tagihan lainnya dibanding membeli pangan. Tentu ini akan menjadi permasalahan yang lebih besar lagi karena manusia dipaksa untuk memilih dan menentukan nasibnya utamanya masyarakat kelas menengah ke bawah yaitu antara memilih untuk selamat dari pandemi Covid-19 dengan mengikuti arahan dan instruksi untuk berdiam diri dirumah namun pada akhirnya harus menderita karena kemiskinan atau memilih untuk tetap bergerak (bekerja) dan tidak berdiam diri di rumah untuk menghidupi diri dan keluarganya namun harus mendapati dirinya menerima kenyataan bahwa ia akan rentan untuk terjangkit atau terpapar virus mematikan Covid-19 ini. Benar-benar pilihan yang sangat sulit yang seolah-olah menempatkan nasib masyarakat ibarat 'telur di ujung tanduk'.

MASYARAKAT BUTUH KOMUNITAS, BUKAN LOCKDOWN DAN BATAS!

  AI Bukan Musuh: Bijak Memanfaatkan Kecerdasan Buatan tanpa Mengabaikan Etika Digital dan Hak Cipta Oleh : Aghil Adrian Aryananda & Y...