Bumi bukan sekadar tempat tinggal melainkan entitas kehidupan yang menopang seluruh sistem ekologis. Namun, dalam realitas hari ini relasi manusia dengan bumi semakin menunjukkan wajah yang eksploitatif terutama dalam persoalan sampah laut.
Di berbagai pulau termasuk wilayah pesisir yang jauh dari pusat kota sampah terus terdampar. Ironisnya, sebagian besar sampah tersebut bukan berasal dari masyarakat setempat melainkan kiriman dari daratan dari kota-kota yang menjadikan laut sebagai tempat pembuangan terakhir.
Fenomena ini memperlihatkan satu hal yang jelas masalah lingkungan tidak berhenti di tempat ia diciptakan. Sampah yang dibuang di kota tidak hilang tetapi berpindah mengalir melalui sungai terbawa arus lalu berakhir di laut dan terdampar di pulau-pulau.
Hari Bumi seharusnya menjadi momen refleksi atas kenyataan ini. Bahwa gaya hidup praktis di perkotaan harus dipertimbangkan dan kebiasaan membuang sampah sembarangan memiliki dampak langsung terhadap wilayah lain yang bahkan tidak ikut menciptakan masalah tersebut.
Dalam perspektif ekologis, hal ini menunjukkan ketimpangan tanggung jawab. Mereka yang paling sedikit berkontribusi terhadap pencemaran justru sering menjadi pihak yang paling terdampak.
Kondisi ini tidak bisa terus dianggap biasa. Selama laut masih diperlakukan sebagai tempat sampah, selama kesadaran berhenti pada wacana, maka sampah akan terus berpindah dan kerusakan akan terus meluas.
Menjaga bumi berarti menghentikan siklus kerusakan ini dari sumbernya. Bukan membiarkan laut membersihkan kesalahan manusia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar