Selasa, 21 April 2026

Hari Kartini bukan sekadar peringatan historis, melainkan momentum refleksi bagi kita semua untuk memahami makna keperempuanan dalam konteks yang lebih luas. Sosok Kartini mengajarkan bahwa perempuan bukan hanya objek dalam tatanan sosial, tetapi subjek yang memiliki suara, pemikiran, dan peran strategis dalam perubahan. Keperempuanan hari ini tidak lagi dapat dibatasi oleh definisi sempit. Yang bukan sekadar tentang peran domestik, penampilan, atau stereotip yang diwariskan turun-temurun. Keperempuanan adalah kesadaran akan potensi diri, keberanian untuk berpikir kritis, serta kemampuan untuk berkontribusi secara aktif di berbagai ruang, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun ranah intelektual dan organisasi.

Dalam konteks IMM, keperempuanan menjadi bagian penting dari gerakan kaderisasi dan pencerahan. Perempuan IMM tidak hanya diharapkan hadir secara kuantitas, tetapi juga secara kualitas yang memiliki daya pikir progresif, kepekaan sosial, serta komitmen terhadap nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan. Di sinilah semangat Kartini menemukan relevansinya bahwa pendidikan dan kesadaran adalah kunci utama dalam membangun perempuan yang berdaya.

Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi pengingat bahwa setiap perempuan memiliki potensi menjadi agen perubahan. Dengan kesadaran, keberanian, dan solidaritas, keperempuanan bukan lagi sekadar identitas, melainkan kekuatan yang mampu membawa transformasi bagi umat dan bangsa.


Apriana

Sekretaris Direktur SKI X

Departemen Bidang IMMawati PK IMM FISIP 2025-2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hari Kartini bukan sekadar peringatan historis, melainkan momentum refleksi bagi kita semua untuk memahami makna keperempuanan dalam konteks...