Sabtu, 13 Agustus 2022
Penghianatan Kaum Intelektual Dan Upayanya dalam Melanggengkan Kekuasaan
Selasa, 31 Mei 2022
PENDERITAAN KAUM PEREMPUAN DAN RESPON FILSAFAT FEMINISME
Filsafat Feminisme memiliki satu tugas utama: memahami gejala-gejala penindasan atas kaum wanita secara filosofis, lalu mencari sebab-sebab utama penindasan tersebut lewat metode filsafat, dan akhirnya mengupayakan pembebasan dari penindasan tersebut lewat kritik filosofis.
Salah satu bentuk kritik dari Simone De Beauvoir mengatakan "Manusia didefinisikan sebagai manusia dan perempuan sebagai perempuan - setiap kali ia berperilaku sebagai manusia ia dikatakan meniru laki-laki." Simone melihat fenomena Starata sosial mengkonstruk paradigma masyarakat bahwa Perempuan adalah mahluk aneh yang datang sebagai pelengkap sekaligus beban dalam masyarakat yang unik sekaligus berbahaya.
Budaya patriarki yang melekat dalam sistem sosial seakan-akan menegelamkan eksistensi Perempuan sebagai mahluk yang setara dengan laki-laki. Oleh karenanya diskriminasi dan pandangan sarkastik terhadap kaum perempuan justru menjadi hantu yang menggentayangi kepercayaan diri para perempuan.
"Perempuan itu indah sebagai fiksi,namun berbahaya sebagai fakta" Demikian perkataan Rocky Gerung yang dikenal sebagai kritikus dan ahli filsafat.Perkataan Rocky Gerung seakan akan melihat Perempuan sebagai mahluk yang berbahaya dan penuh ketidak jelasan dalam hidupnya.
Pandangan masyarakat terhadap Exsistensi Perempuan sebagai pelengkap dan pegawai rumah tangga juga di interpretasikan oleh Simone De Beauvoir sebagai penindasan dan penderitaan yang dialami kaum perempuan . "Beberapa tugas lebih seperti penyiksaan Sisyphus daripada pekerjaan rumah tangga, dengan pengulangan tanpa henti: bersih menjadi kotor, kotor dibuat bersih, berulang-ulang, hari demi hari."kutip Simone De Beauvoir.
Mitologi Sisyphus " the Mity of Sisyphus" karya Albert Camus yang menggambarkan seorang Manusia yang dikutuk mendorong batu ke atas bukit seumur hidupnya,Sisyphus harus bersusah payah mendorong batu tersebut tanpa henti sampai selamanya. Nasib Sisyphus kemudian juga menjadi sebuah ungkapan dalam Bahasa Inggris, yaitu "Sisyphean" yang berarti "sesuatu yang dikerjakan dengan usaha ekstra, tetapi sia-sia belaka".
Simone De Beauvoir menggambarkan penderitaan Sisyphus sama halnya yang dirasakan Perempuan dalam hidupnya yang hanya berfokus pada Kasur,sumur,dan dapur yang terus-menerus dilakukannya dalam rumah tangga yang di ikat oleh kontrak sosial dan melahirkan sistem yang mengucilkan sekaligus menyiksa Perempuan.
Oleh :
IMMawan Agus Maulana (Sekbid RPK PIKOM IMM FISIP UNISMUH Makassar Periode 2021-2022)
Minggu, 08 Mei 2022
Hari Terumbu Karang Nasional : Selamatkan terumbu karang dari bahaya penggunaan sunscreen
Sabtu, 30 April 2022
MAY DAY 1 MEI : Altruisme KARL MARX dan Kesadaran Buruh atas ketertindasan.
Sabtu, 23 April 2022
HARI BUKU SEBAGAI UPAYA PEMBEBASAN ATAS PENJARA KEBODOHAN
Oleh :
Agus Maulana
Sekbid Riset dan Pengembangan Keilmuan Pikom IMM Fisip Unismuh Makassar Periode 2021-2022
Kamis, 21 April 2022
Refleksi Hari Kartini : Perempuan Berbicara Melalui Tulisan
Sepanjang sejarah dunia, dibalik kesuksesan dan keberhasilan dalam merevolusi pandangan dan peradaban sejatinya selalu ada perempuan. Entah memberi makan atau ikut serta dalam barisan perjuangan. Terekam abadi atas sumbangsi yang diberi.
Di Mesir, kita mengenal sosok Cleopatra, di Inggris ada Elizabeth Blackwell, perempuan pertama yang membantu dan mendobrak hambatan sosial yang memmungkinkan perempuan diterima sebagai dokter. Di India, ada Indira Ghandi yang berpengaruh dalam memberikan pandangan serta angin segar bagi para perempuan di dunia politik.
Akan tetapi sebagai warga negara yang memiliki jiwa nasionalisme tinggi, sepatutnya kita tidak buta dengan sejarah perjuangan perempuan di negara kita sendiri. Bukankah Bapak Proklamator telah berpesan yang indentik kita kenal dengan sebutan "Jas Merah?".
Adalah Raden Ajeng Kartini, sosok perempan yang lahir dari rahim ibu pertiwi. Yang sampai saat ini, namanya harum mewangi semerbak bunga kasturi. Ia lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879. Kartini lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang berpredikat sebagai bangsawan. Karenanya sejarah mencatat bahwa perlawanan tak sekedar timbul dari kaum Adam.
Bicara Kartini adalah bicara emansipasi. Bagaimana tidak, dulu, perempuan jika telah mengalami menstruasi ia harus dipingit dan hanya diperbolehkan tinggal dalam rumah untuk menunggu bangsawan datang dan melamarnya. Entah sebagai istri pertama, kedua dan seterusnya.
Akibat resah dan tidak menerima dengan diskriminasi yang terjadi antara pria dan wanita, Kartini melawan dengan bersenjatakan pena dan bukunya. Dengan tulisannya, ia berhasil mempelopori kesetaraan derajat antara pria dan wanita di Nusantara.
Ia adalah pahlawan emansipasi perempuan. Kartini menginginkan agar kaum perempuan pribumi tetap mengenyam pendidikan layaknya kaum pria. Akibat kegigihan dan kecerdasannya, ia berhasil mempelopori kebangkitan perempuan. Pemikiran dan pandangannta terhadap emansipasi wanita menjadi dasar perjuangannya dalam membangun sistem pendidikan bagi perempuan di Indonesia.
Melihat dan menelusuri jejak perjuangan dan perlawanan Kartini yang dituangkan dalam tulisan, seharusnya membuat kita sadar. Bahwa sekarang ini, negara tidak butuh perempuan yang memilih apatis dan sibuk mengurusi kecantikan, didandani oleh kota, dan dininabobokkan oleh produk-produk kapitalis.
Indonesia butuh perempuan yang peduli terhadap tanah airnya, peka dengan kondisi sosial yang makin sial, serta perempuan yang memilih berbicara melalui tulisan dan diimplementasikan dengan tindakan. Negara butuh perempuan yang menjiwai perjuangan Kartini. Sebab dibalik gelap selalu ada terang setelahnya. Menjadi cahaya di balik tuntutan zaman yang semakin berbahaya.
Semoga kelak akan ada perempuan yang kita peringati tanggal lahirnya setiap tahun seperti Kartini. Karena sumbangsi dan perjuangannya untuk bangsa ini. Semoga.
Oleh :
Zul Jalali Wal Ikram (Kabid Riset dan Pengembangan Keilmuan Pikom IMM Fisip Unismuh Makassar Periode 2021-2022)
Minggu, 13 Maret 2022
KADER IMM MENOLAK LUPA
AI Bukan Musuh: Bijak Memanfaatkan Kecerdasan Buatan tanpa Mengabaikan Etika Digital dan Hak Cipta Oleh : Aghil Adrian Aryananda & Y...
-
Nurhikmah Rahmadani Roni Divisi Advokasi dan Media SKI Jilid IX Sekretaris Bidang Hikmah PKP Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri, dem...
-
NUR ILHAM ( Jendral SKB XI) Pemerintah sering berbicara tentang pembangunan, namun realitasnya? Itu hanya ucapan kosong yang menipu masyar...
-
Pelecehan seksual terhadap perempuan merupakan persoalan serius yang masih terjadi di berbagai lapisan masyarakat, baik di ruang publik maup...

%20(11).jpeg)
.jpg)
%20(4).jpeg)

